Rabu, 11 April 2012

TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PERAN ISTRI SEBAGAI PENCARI NAFKAH UTAMA DALAM KELUARGA


  i
TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PERAN
ISTRI SEBAGAI PENCARI NAFKAH UTAMA 
DALAM KELUARGA
(Studi Kasus Kehidupan Keluarga TKW di Desa Kecandran
Kecamatan Sidomukti Salatiga)




SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Kewajiban dan Melengkapi Syarat
Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata I
Dalam Ilmu Syari'ah









Disusun Oleh :
TURFIATI KHAQIQOH
NIM : 211 03 020





JURUSAN SYARI'AH
PROGRAM STUDI AHWAL AL SYAKHSIYYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
SALATIGA
2 0 0 8 
  ii
 DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL....................................................................................  i
HALAMAN DEKLARASI .........................................................................   ii
HALAMAN NOTA PEMBIMBING ..........................................................  iii
HALAMAN PENGESAHAN .....................................................................  iv
HALAMAN MOTTO..................................................................................   v
HALAMAN PERSEMBAHAN ..................................................................  vi
KATA PENGANTAR .................................................................................  viii
DAFTAR ISI................................................................................................  ix

BAB I   PENDAHULUAN
A.  Latar belakang masalah ..........................................................  1
B.  Penegasan Istilah ....................................................................   6
C.  Rumusan Masalah ..................................................................  8
D.  Tujuan dan Manfaat Penelitian...............................................   8
E.  Telaah Pustaka........................................................................  9
F.  Kerangka Teori.......................................................................   13
G.  Metode Penelitian...................................................................   16
H.  Sistematika Penulisan.............................................................  19

BAB II   KAJIAN  TEORI  TENTANG  NAFKAH  MENURUT
PANDANGAN HUKUM ISLAM
A.  Hak dan Kewajiban Suami Istri Menurut Fiqh.......................  22
1.  Bentuk-bentuk Hak dan Kewajiban Suami Istri...............   23
2.  Kewajiban Nafkah Suami Menurut Fuqaha .....................   28 
  iii
B.  Hak dan Kewajiban Suami Istri Menurut Perundang-
undangan ................................................................................  31
1.  Hak dan Kewajiban Suami Menurut Undang-Undang
Perkawinan No. 1 Tahun 1974.........................................   32
2.  Hak dan Kewajiban Suami Istri Menurut Kompilasi
Hukum Islam (KHI) .........................................................   33
C.  Ketentuan Nafkah Menurut Fiqh............................................   37

BAB III  DATA HASIL PENELITIAN 
A.  Gambaran umum Desa Kecandran, Kecamatan Sidomukti
Salatiga ...................................................................................  40
B.  Data Tenaga Kerja Wanita di Desa Kecandran, Kecamatan
Sidomukti Salatiga .................................................................   48
C.  Kehidupan Keluarga TKW di Desa Kecandran, Kecamatan
Sidomukti Salatiga .................................................................   50

BAB IV ANALISIS TERHADAP KEHIDUPAN KELUARGA TKW
SEBAGAI PENCARI NAFKAH UTAMA DI DESA
KECANDRAN KECAMATAN SIDOMUKTI SALATIGA
A.  Analisa Faktor Penyebab Istri sebagai Pencari Nafkah
Utama Keluarga TKW di Desa Kecandran, Kecamatan
Sidomukti Salatiga .................................................................   65
B.  Analisa Mengenai Tasharuf Gaji Istri Sebagai TKW ............   69
C.  Analisa Dampak Istri Menjadi TKW bagi Keharmonisan
Rumah Tangga .......................................................................   72
D.  Profesi Istri sebagai TKW dan Pencari Nafkah Utama
dalam Pandangan Hukum Islam.............................................   77 
  iv
BAB V  PENUTUP
A.  Kesimpulan.............................................................................  84
B.  Saran-saran .............................................................................  86
C.  Penutup...................................................................................  87

DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
LAMPIRAN-LAMPIRAN
  1
BAB I
PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang Masalah
Pernikahan ialah akad yang menghalalkan pergaulan dan membatasi
hak dan kewajiban, serta bertolong-tolongan antara seseorang laki-laki dan
seorang perempuan yang antara keduanya bukan mahrom.
1
 Pernikahan
merupakan salah satu pokok hidup yang paling utama dalam pergaulan
masyarakat yang sempurna. Pernikahan sebagai jalan yang sangat mulia untuk
mengatur kehidupan rumah tangga sekaligus sebagai jalan untuk melanjutkan
keturunan. Sebab kalau tidak dengan nikah tidak jelas siapa yang akan
mengurusi dan siapa yang bertanggung jawab terhadap anaknya.
Karena begitu pentingnya pernikahan, maka Islam memberi banyak
peraturan untuk menjaga keselamatan dari perkawinan sekaligus hak dan
kewajiban suami istri dalam perkawinan itu sendiri. Dengan mengetahui
tentang hak dan kewajiban suami istri tadi diharapkan pasangan suami istri
akan saling menyadari akan pentingnya melaksanakan hak dan kewajibannya,
sehingga tidak mendholimi satu sama lain dan dapat bekerja sama menggapai
keluarga sakinah, mawadah, dan rohmah.
Selain itu perkawinan merupakan sebagai wujud perbuatan hukum
antara suami dan istri, perkawinan tidak hanya dimaknai untuk merealisasikan
ibadah kepada Allah SWT saja, tetapi disisi lain dengan adanya sebuah
                                                
1
 H. Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam, Cet. Ke XXVII,  Sinar Baru al Gesindo, Jakarta, hlm.
374. 
  2
perkawinan maka menimbulkan akibat hukum keperdataan antara keduanya.
Melihat tujuan perkawinan yang begitu mulia, yaitu membina keluarga
bahagia, kekal, abadi berdasarkan ke-Tuhan-an Yang Maha Esa, maka disini
ada pengaturan mengenai hak dan kewajiban suami istri masing-masing.
Apabila hak dan kewajiban masing-masing suami dan istri terpenuhi maka
dambaan suami istri dalam kehidupan berumah tangga akan dapat terwujud
didasari rasa cinta dan kasih sayang.
2

Sebagaimana dalam Al-Qur'an surat An-Nisa' ayat 19 disebutkan :
        ѧѧَﻟَو ѧѧًهْﺮَآ َء َ ѧ ѧ ﱢﻨ ا ا ѧ ѧ ُ ِ َ ْن َأ ْ ѧ ѧ ُ َ ﱡﻞ ѧ ѧ ِ َ ѧѧَ اѧѧُﻨَﻣاَء َ ِ ѧ ѧ ﱠﻟ ا ѧѧَﻬﱡﻳَأﺎﻳ
               ٍ َ ѧ ِ َ ِ َﻦﻴِﺗْﺄѧَ ْن َأ ѧﱠﻟِإ ﱠﻦ ُه ѧ ُ ُ ْ َ ا َء ѧَ ِﺾْﻌ َ ѧ ِ ا ُ َه ْ َ ِ ﱠﻦ ُه ُ ُﻀْﻌ َ
      َ ѧ ѧ ѧ َ َ ﱠﻦُهѧѧѧُﻤُﺘْهِﺮَآ ْن ِ ѧ ѧ ѧ َ ِف و ُ ْ َ ْ ѧ ѧ ѧ ِ ﱠﻦ ُه و ُ ѧ ѧ ѧ ِ َ َو ٍѧѧѧَﻨﱢﻴَﺒُﻣ  ْن َأ
ا ً ِ َآ اًﺮْﻴَﺧ ِﻪﻴِﻓ ُﻪﱠﻠﻟا َ َ ْ َ َو ﺎًﺌْﻴَﺷ ا ُه َ ْ َ 
Artinya : "Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai
wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan
mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang
telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan
pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara
patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka
bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu,
padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak".
3


Ayat di atas merupakan petunjuk yang bersifat umum dalam pergaulan
antara suami dan istri, agar diantara mereka dapat bergaul secara ma'ruf (baik)
pergaulan tersebut bukan hanya meliputi aspek fisik, tetapi juga aspek psikis
atau perasaan, dan juga aspek ekonomi yang menjadi penyanga tegaknya
bahtera rumah tangga.
4

                                                
2
 Ahmad Rofiq,  Hukum Islam di Indonesia, Edisi I, Cet. VI, Raja Grafindo Persada,
Jakarta, 2003, hlm. 181.
3
 Departemen Agama RI, Al-Qur'an dan Terjemahnya, hlm. 119
4
 Ahmad Rofiq, op.cit., hlm. 182. 
  3
Adanya ketentuan-ketentuan mengenai hak dan kewajiban suami istri
dalam sebuah rumah tangga tersebut bertujuan agar pasangan suami istri bisa
saling mengerti, memahami tentang mana yang menjadi wewenang dari
masing-masing. Diantara keduanya dapat mengetahui mana yang menjadi hak
suami atau hak istri dan mana yang menjadi kewajiban suami atau kewajiban
istri. Karena apa yang menjadi hak istri adalah kewajiban suami untuk
memenuhinya dan hak suami adalah kewajiban istri untuk memenuhinya.
Dengan adanya hak kewajiban suami istri tersebut tampak sekali hubungan
antara keduanya, yaitu antara suami dan istri itu harus saling melengkapi
dalam berbagai persoalan di dalam rumah tangga.
Pada dasarnya konsep hubungan suami istri yang ideal menurut Islam
adalah konsep kemitrasejajaran atau hubungan yang setara antara keduanya
namun konsep kesetaraan atau kemitrasejajaran dalam hubungan suami istri
tidak begitu saja mudah diterapkan dalam kenyataan hidup sehari-hari.
Buktinya sering dijumpai banyak berbagai hambatan untuk mewujudkan nilai
yang ideal tadi. Hal ini dipengaruhi oleh keterbatasan-keterbatasan satu sama
lain yang dimiliki oleh manusia, kemampuan antara manusia yang satu
dengan manusia yang lain juga berbeda, oleh karena itu, wajar bila pada suatu
waktu kaum laki-laki yang diunggulkan, karena memang dia berhak
menyandang posisi sebagai pemimpin. Laki-laki yang mempunyai kelebihan
kekayaan dan kemampuan berburu, sehingga memungkinkan bagi kaum laki-
  4
laki untuk mencari nafkah. Sementara kaum perempuan dalam kondisi yang
sebaliknya.
5
 Firman Allah QS. Al-Baqarah ayat 228 :
... ٌ َ َر َد ﱠﻦ ِ ْ َ َ ِل َ ﱢﺮ ِ َو ِف و ُ ْ َ ْ ِ ﱠﻦ ِ ْ َ َ يِﺬﱠﻟا ُ ْ ِ ﱠﻦ ُ َ َو .... 
Artinya : "… Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan
kewajibannya menurut cara yang ma`ruf. Akan tetapi para suami
mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya…."
6


Membina sebuah rumah tangga memang bukan hanya untuk saling
menguasai dan memiliki antara satu pihak dengan pihak yang lain. Karena
pernikahan bukan hanya sebagai sarana pemuas nafsu seksual semata. Di
dalamnya terdapat banyak tugas dan kewajiban yang besar bagi kedua belah
pihak termasuk tanggung jawab ekonomi.
Nafkah merupakan satu hak yang wajib dipenuhi oleh seorang suami
terhadap istrinya, nafkah ini bermacam-macam, bisa berupa makanan, tempat
tinggal, pelajaran (perhatian), pengobatan, dan juga pakaian meskipun wanita
itu kaya.
7
 Firman Allah Q.S Al-Baqarah ayat 233:
... َو ِف و ُ ْ َ ْ ِ ﱠﻦ ُ ُ َ ْ ِآ َو ﱠﻦ ُ ُ ْز ِر ُ َ ِدﻮُﻟْﻮَﻤْﻟا ﻰَﻠَﻋ .... 
Artinya : "…Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para
ibu dengan cara yang ma`ruf.….."
8


Memberikan nafkah itu wajib bagi suami sejak akad nikahnya sudah
sah dan benar, maka sejak itu seorang suami wajib menanggung nafkah
                                                
5
 Ratna Batara Munti, Perempuan Sebagai Kepala Rumah Tangga, Diterbitkan atas Kerja
Sama Lembaga Kajian Agama dan Jender, Solidaritas Perempuan, Jakarta, 1999, hlm. 56-58.
6
 Departemen Agama RI, op.cit, hlm. 55
7
 Abdul Hamid Kisyik, Bimbingan Islam untuk Mencapai Keluarga sakinah, Al Bayan
Kelompok Penerbit Mizan, terj.Bina’ Al- Usrah Al- Muslimah; Mausu’ah Al- Zuwaj Al- Islami,
Kairo, Mesir, t.t., hlm. 128.
8
 Departemen Agama RI, op.cit, hlm. 57. 
  5
istrinya dan ini berarti berlakulah segala konsekwensinya secara spontan. Istri
menjadi tidak bebas lagi setelah dikukuhkannya ikatan perkawinan.
9

Tetapi dalam waktu dan kondisi sekarang berbeda, karena perempuan
telah memiliki peluang yang sama dengan laki-laki untuk menjadi unggul
dalam berbagai bidang kehidupan, bahkan secara ekonomi tidak lagi
tergantung pada laki-laki. Laki-laki bukan lagi sebagai pencari nafkah utama
dan perempuan bukan sebagai pencari nafkah tambahan.
Sebagaimana dengan kenyataan hidup saat ini, ketika kebutuhan hidup
semakin banyak, tidak semua kebutuhan dapat dipenuhi karena naiknya harga
kebutuhan yang cukup tinggi, membuat istri tidak tinggal diam. Banyak
fenomena yang muncul pada masyarakat sekarang dijumpai perempuan
berperan sebagai pencari nafkah utama bagi keluarganya. Misalnya di Desa
Kecandran, Kecamatan Sidomukti Salatiga. Situasi dan keadaan yang
demikian sulit menuntut pihak istri untuk bekerja sebagai pencari nafkah
utama bagi keluarganya. Karena suami memiliki keterbatasan kemampuan
atau keahlian mengakibatkan dirinya tidak mempunyai pekerjaan tetap,
bahkan sebagian dari mereka memang enggan untuk bekerja mencari nafkah
untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Dalam keadaan terhimpit ekonomi banyak dari mereka bekerja di luar
negeri menjadi TKW seperti di Arab Saudi, Malaysia, Hongkong, Brunai
Darussalam dan sebagainya, mereka  mengabdikan dirinya di negeri orang
demi terpenuhinya kebutuhan ekonomi keluarga, istri sebagai pencari nafkah
utama keluarga ini sifatnya hanya sementara waktu saja. Sehingga terpisahnya
                                                
9
 Abdul Hamid Kisyik, op.cit., hlm. 134. 
  6
jarak dan waktu bersama keluarga. Maka  istri tidak dapat lagi melaksanakan
hak dan kewajibannya sebagai istri dalam rumah tangga untuk sementara
waktu. Dengan munculnya fenomena tersebut maka mengakibatkan adanya
dampak bagi kelangsungan hidup rumah tangga.
Karena penulis tertarik dengan masalah tersebut, maka penulis ingin
mengkaji tentang hal tersebut dan penulis memberi judul skripsi :
"TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PERAN ISTRI SEBAGAI
PENCARI NAFKAH UTAMA DALAM KELUARGA (Studi Kasus
Kehidupan Keluarga TKW di Desa Kecandran Kecamatan Sidomukti
Salatiga)"

B.  Penegasan Istilah
Untuk mendapatkan kejelasan judul di atas, penulis perlu memberikan
penegasan dan batasan terhadap istilah-istilah yang ada ataupun istilah-istilah
tersebut adalah :
1.  Hukum Islam
Yaitu rangkaian dari kata "hukum" dan kata "Islam" untuk
mengetahui arti Hukum Islam perlu diketahui lebih dahulu arti kata
hukum. Hukum yaitu seperangkat peraturan tentang tingkah laku manusia
yang diakui sekelompok masyarakat itu, berlaku dan mengikat untuk
seluruh anggotanya. Hukum Islam artinya seperangkat peraturan
berdasarkan wahyu Allah dan sunah Rasul tentang tingkah laku manusia
yang diakui dan diyakini serta mengikat untuk semua yang beragama
Islam.
10

                                                
10
 Amir Syarifudin, Usul Fiqh Jilid I, Logos, Jakarta, 1997, hlm. 4-5. 
  7
Dalam pembahasan mengenai hukum Islam penulis akan
membatasi pembahasan dalam ruang lingkup fiqh dan perundang-
undangan (Udang-undang No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan dan
Kompilasi Hukum Islam (KHI). 
2.  Pencari nafkah utama
Istri adalah sebagai seseorang yang mencari sekaligus memenuhi
kebutuhan nafkah meliputi sandang, pangan, papan, serta biaya pendidikan
anak. Istri sebagai tumpuan keluarga ia sebagai penanggung jawab
ekonomi keluarga, karena suami tidak dapat memenuhinya. 
3.  TKW (Tenaga Kerja Wanita)
Untuk mengetahui apakah yang dimaksud dengan TKW (Tenaga
Kerja Wanita) akan terlebih dahulu arti TKI (Tenaga Kerja Indonesia),
karena pengertian TKW dan TKI saling berhubungan.
TKI adalah setiap warga negara Indonesia yang memenuhi syarat
untuk bekerja di luar negeri dalam hubungan kerja untuk jangka waktu
tertentu dengan menerima upah.
11

TKI yang dimaksudkan di atas adalah setiap warga negara
Indonesia, baik laki-laki maupun perempuan yang bekerja di luar negeri.
Dari pengertian tersebut dapat diambil pengertian tentang TKW yaitu
perempuan atau wanita yang memenuhi syarat untuk bekerja di luar negeri
dalam hubungan kerja untuk jangka waktu tertentu dengan menerima
upah.
                                                
11
 UU RI Nomor 39 Tahun 2004, Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia
di Luar Negeri, Fokusmedia, Bandung, 2005, hlm. 3. 
  8
C.  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka batasan rumusan
masalah yang menjadi fokus penelitian ini, adalah:
1.  Bagaimana ketentuan nafkah menurut pandangan hukum Islam ?
2.  Faktor apa saja yang melatar belakangi peran istri berprofesi sebagai TKW
di Desa Kecandran, Kecamatan Sidomukti Salatiga? 
3.  Bagaimana pentasyarufan gaji istri selama menjadi TKW?
4.  Apa dampak bagi kelangsungan hidup rumah tangga ketika istri menjadi
TKW ?
5.  Bagaimana tinjauan hukum Islam terhadap istri sebagai TKW dalam
mencari nafkah utama untuk keluarga?

D.  Tujuan dan Manfaat Penelitian
Sesuai dengan pokok masalah yang telah dirumuskan di atas,
penelitian ini mempunyai tujuan sebagai berikut :
1.  Untuk mengetahui ketentuan nafkah menurut pandangan hukum Islam.
2.  Untuk Mengetahui faktor apa yang melatar belakangi peran istri berprofesi
sebagai TKW di Desa Kecandran, Kecamatan Sidomukti Salatiga.
3.  Untuk mengetahui bagaimana pentasyarufan gaji istri selama menjadi
TKW.
4.  Untuk mengetahui dampak bagi kelangsungan hidup rumah tangga ketika
istri menjadi TKW.
5.  Untuk mengetahui tinjauan hukum Islam terhadap istri sebagai TKW
dalam mencari nafkah untuk keluarga? 
  9
Sedang manfaat penelitian ini adalah :
1.  Dengan penelitian ini diharapkan bagi penulis untuk menambah wawasan
dan pengetahuan mengenai realita kehidupan rumah tangga TKW di Desa
Kecandran, Kec. Sidomukti, Salatiga, beserta akibat yang muncul ketika
nafkah utama ada di tangan istri.
2.  Untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam memperoleh gelar Sarjana
Program Strata Satu (S1) dalam bidang hukum Islam.

E.  Telaah Pustaka
Penelitian mengenai TKW telah dilakukan oleh PSGK(Pusat Studi
Gender dan Keluarga) STAIN Salatiga yang berjudul  Tawa dan Tangis
keluarga TKW (studi eksplorasi kehidupan anggota keluarga buruh migran
perempuan di Kelurahan Kecandran, Kecamatan Sidomukti dan Kelurahan
Kauman Kidul, Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga, Propinsi Jawa Tengah.
Penelitian pada tahun 2006 ini mengamati berbagai persoalan mengenai TKW
di Kelurahan Kecandran, Kec. Sidomukti dan Kelurahan Kauman Kidul, Kec.
Sidorejo Kota Salatiga, Propinsi Jawa Tengah. Untuk fokus penelitiannya di
wilayah kelurahan Kecandran Kec. Sidomukti hanya di Dusun Gamol saja.
Penelitian ini menghasilkan kesimpulan TKW Gamol umumnya ibu-ibu yang
sudah berkeluarga dan mempunyai anak. Banyak faktor yang menjadi
pengaruh mereka menjadi TKW antara lain faktor geografis, historis dan
budaya yang berkembang di masyarakat. Dengan kepergian seorang ibu
menjadi TKW banyak berbagai dampak yang muncul. Sebagian besar dampak
tersebut dirasakan oleh anak-anak dan suami TKW. Anak-anak dari mereka 
  10
kurang mendapatkan perhatian dan pengasuhan yang berkualitas. Sedangkan
dampak bagi suami adalah adanya pergeseran peran suami. Penelitian ini
cukup menarik, karena secara rinci menyoroti tentang kehidupan keluarga
TKW pada umumnya. Hanya saja penelitian ini belum secara khusus
menyoroti tentang istri sebagai pencari nafkah utama. Sebagai pencari utama
ini nampak sekali ketika istri menjadi TKW selama beberapa tahun sekaligus
istri sebagai satu-satunya tumpuan keluarga. Istri berperan sebagai pencari
nafkah utama baik nafkah sandang, pangan, papan, serta pendidikan bagi
anak- anaknya.
Selain penelitian mengenai TKW, terdapat penelitian lain yang telah
dilakukan oleh Sholechah. Istri Karier Dalam Perspektif Hukum Islam (Studi
Terhadap istri pencari nafkah di Desa Gedangan Kec. Tuntang Kab.
Semarang).   Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa munculnya
berbagai persoalan kehidupan dalam rumah tangga, membuat istri tidak hanya
tinggal diam dan berpangku tangan menunggu hasil kerja dari sang suami,
dalam penelitian ini nampak jelas tentang relasi suami istri. Yang mana antar
suami istri saling melengkapi dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarganya,
Walaupun mereka sibuk mencari nafkah hak dan kewajiban dari masing-
masing tetap terpenuhi. Secara tematik yang di angkat dalam penelitian
Sholechah memiliki kesamaan pada salah satu aspek dengan penelitian ini.
Yakni mengupas tentang istri sebagai pencari nafkah dalam keluarga. Yang
membedakan antara studi tersebut dengan penelitian ini adalah istri di sini
bukan sebagai pencari nafkah utama dalam keluarga. Selain itu dalam 
  11
penelitian tersebut yang diusung adalah pekerjaan istri selain menjadi ibu
rumah tangga, istri juga berprofesi lain, seperti guru, pedagang, karyawan
pabrik, bekerja pada industri kerajinan tangan dan lainny meskipun sang
suami telah bekerja.
Hal yang membedakan studi ini berbeda adalah berusaha mengupas
pekerjaan istri sebagai TKW dalam memenuhi kebutuhan keluarga.
Penelitian lain oleh Jumiyati dalam skripsinyaa yang berjudul Hak dan
Kewajiban Suami Istri (Studi Komparasi Antara Fiqh dengan Kesetaraan
Gender). Dari karya ini dapat ditarik kesimpulan bahwa hak suami istri itu
telah ditentukan sendiri-sendiri kekuasaannya, sedang kewajiban suami istri
itu menuntut antara keduanya harus mengerjakan. Kewajiban itu harus saling
dihormati, sedang perbandingan antara fiqh dan kesetaraan gender sudah jelas 
ditetapkan bahwa menurut fiqh suami adalah kepala rumah tangga dan istri
sebagai ibu rumah tangga. Lain halnya dengan fenomena yang terjadi saat ini,
istri keluar rumah atau berkarir untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga,
tetapi disisi lain nafkah itu tetap merupakan kewajiban suami.
Karya tulis sejenis adalah penelitian oleh Widodo dengan judul
Kepemimpinan Perempuan dan Relevansinya Dengan kewajiban seorang Istri
Dalam Perspektif Hukum Islam (Studi  analisis Terhadap Pemikiran Yusuf
Qordhowi). Di sini memaparkan bahwa kepemimpinan perempuan itu terjadi
pro dan kontra di kalangan tokoh dan pemikir Islam. Laki-laki itu berkuasa
atas diri perempuan dan kesepakatan adanya kepemimpinan perempuan
berpendapat bahwa dalam memahami satu dalil itu tidak hanya secara tekstual 
  12
saja tetapi juga kontekstual. Kewajiban utama seorang istri adalah patuh dan
taat kepada suami, selama suami itu masih berpegang teguh pada nilai-nilai
agama Islam. Sedang menurut Yusuf Qordhowi tentang kepemimpinan
perempuan, perempuan itu memiliki hak untuk menjadi pemimpin dalam
bidang apapun kecuali memimpin rumah tangga dan menjadi kholifah.
Perempuan mempunyai hak untuk menjadi wanita karier dengan catatan tugas
utama sebagai istri tidak terabaikan.
Perlu penulis tegaskan, bahwa permasalahan yang penulis teliti ini
sudah pernah diteliti, akan tetapi perspektif atau tinjauan yang digunakan
berbeda dengan penelitian yang sebelumnya. Di sini penulis mencoba meneliti
lebih dalam dengan mengambil sudut pandang yang berbeda yaitu
mengadakan penelitian di lingkungan keluarga TKW di Desa Kecandran,
Kecamatan Sidomukti Salatiga dengan tinjauan hukum Islam. Walaupun
penelitian dilakukan pada kelurahan yang sama, tapi penelitian ini dengan
penelitian yang sebelumnya lokasi tersebut berbeda, yakni di empat dusun
yaitu Winong, Gedongan, Karang padang  dan Sawahan. Sedang penelitian
sebelumnya hanya di satu dusun yaitu Gamol saja. Lokasi penelitian ini
dengan penelitian sebelumnya memiliki perbedaan secara geografis, historis
dan budaya, pada lingkungan masyarakat.
Perbedaan yang lain adalah terletak pada obyek penelitiannya, penelitian
ini membatasi dengan ketentuan yang berbeda. Yaitu responden adalah TKW
yang sudah bekerja minimal 6 tahun bekerja di luar negeri. Karena waktu 6
tahun bukan waktu yang retalif singkat untuk menekuni profesi tersebut. Istri 
  13
sebagai pencari nafkah utama dapat dilihat ketika hasil kerja minimal 6 tahun
tersebut untuk memenuhi kebutuhan keluarga meliputi sandang, pangan,
tempat tinggal, dan pendidikan anak. 

F.  Kerangka Teori.
Dalam rumah tangga ada peran-peran yang dilekatkan pada
anggotanya, seperti seseorang suami berperan sebagai kepala rumah tangga,
sedang seorang istri berperan sebagai ibu rumah tangga. Peran-peran tersebut
muncul biasanya karena ada pembagian tugas antara mereka di dalam rumah
tangga. Seorang suami berperan sebagai kepala rumah tangga. Oleh karena
itu, ia mendapat bagian tugas yang lebih berat, yakni mencari nafkah untuk
seluruh anggota keluarganya. Disamping  itu, ia sebagai kepala rumah tangga
juga diberi tanggung jawab untuk melindungi dan mengayomi rumah
tangganya, sehingga rumah tangga tersebut dapat berjalan sesuai dengan nilai-
nilai Islam. Karena kedua hal tersebut, yakni sebagai suami dan sebagai
kepala rumah tangga, maka ia memiliki kekuasaan lebih dibandingkan
anggota lainnya, terutama dalam pengambilan keputusan untuk urusan
keluarganya. Sementara pada sisi yang lain, istri biasanya bertanggung jawab
untuk mengurus rumah tangga sehari-hari. Pembagian peran dan fungsi suami
istri tersebut tidak lain bersumber pada penafsiran atas ajaran agama dan nilai-
nilai budaya yang dianut masyarakat. Yakni sebuah nilai yang menempatkan 
  14
laki-laki sebagai jenis kelamin yang memiliki kemampuan lebih dibandingkan
rekannya dari jenis kelamin lain, yakni perempuan.
12

Firman Allah dalam Surat An-Nisa (4): 34
    ѧѧَﻠَﻋ ْ ُ َѧ ѧ ْ َ ُѧѧﱠﻠﻟا َ ﱠﻀѧ ѧ َ ѧѧَﻤِﺑ ِء َ ѧ ѧ ﱢﻨ ا ѧѧَﻠَﻋ َن ѧ ѧ ُ ا ﱠﻮ َ ُل ѧ ѧ َ ﱢﺮ ا
         ﱠﺼ ѧ َ ْ ِ ِ ا َ ѧ ْ َأ ْ ѧ ِ ا ُ َ ْ َأ ﺎَﻤِﺑَو ٍﺾْﻌ َ      ٌت ѧ َ ِ َ ٌت ѧ َ ِ َ ُت َ ِ
      ﱠﻦ ُه ѧ ѧ ُ ِ َ ﱠﻦ ُه َز ُ ѧ ѧ ُ َن ُ ѧ ѧ َ َ ﻲِﺗﺎѧѧﱠﻠﻟاَو ُѧѧﱠﻠﻟا َ ѧ ѧ ِ َ ѧѧَﻤِﺑ ِ ѧ ѧ ْ َ ْ ِ
        اﻮُﻐْﺒَﺗ ﺎَﻠَﻓ ْ ُ َ ْ َ َأ ْن ِ َ ﱠﻦ ُه ُ ِ ْﺿا َو ِ ِ َﻀَﻤ ْ ا ﻲِﻓ ﱠﻦ ُه و ُ ُ ْه ا َو
ا ً ِ َآ ﺎﻴِﻠَﻋ َن َآ َﻪﱠﻠﻟا ن ِإ ً ِ َ ﱠﻦ ِ ْ َ َ 

Artinya : "Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh
karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki)
atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-
laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu
maka wanita yang saleh, ialah yang ta`at kepada Allah lagi
memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah
telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu
khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan
pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah
mereka. Kemudian jika mereka menta`atimu, maka janganlah
kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya
Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar".
13


Dalam hadits riwayat Bukhori Muslim di jelaskan
              ّ ѧ ّ ا ѧ ѧﻤﻬﻨﻋ ا ѧﺿر ѧﻤﻋ ѧا ﻦﻋو      لѧ ل ص   :   ѧﻜّﻠآ
   ѧѧﺘّﻴﻋر ѧѧ لﻮﺌﺴѧѧ ѧѧﻜّﻠآو عار  ,   عار ѧѧﺟّﺮﻟاو عار ѧѧﻴﻣﻷا و
   ﻪﺘﻴﺑ هأ ﻰﻠﻋ  ,               ѧﻜّﻠﻜﻓ ﻩﺪѧوو ѧﻬﺟوز ѧﻴﺑ ѧﻠﻋ ѧﻴﻋار ةأѧﻤﻟاو
ﻪﺘّﻴﻋر ﻦﻋ لﻮﺌﺴﻣ ﻢﻜّﻠآو عار  , ﻪﻴﻠﻋ ﻖﻔﺘﻣ . 

Artinya :"Dari ibnu umar ra,dari Nabi SAW ,beliau
bersabda:” Kalian   adalah pemimpin dan kalian akan dimintai
pertanggung jawaban atas kepemimpinan kalian. Seorang penguasa
adalah pemimpin, seorang suami adalah seorang pemimpin seluruh
keluarganya. Demikian pula seorang istri adalah pemimpin atas
                                                
12
 Ratna Batara Munti, op.cit., hlm. 2-3.
13
 Departemen Agama RI, op.cit., hlm. 34. 
  15
rumah suami dan anaknya. Kalian adalah pemimpin yang akan
dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinan kalian”. ( HR
Bukhori dan Muslim)
14


        Suami sebagai penanggung jawab utama keluarga, baik meliputi aspek
ekonomi dan perlindungan terhadap keutuhan rumah tangganya maka ia harus
melaksanakan secara tanggung jawab penuh. Aspek ekonomi meliputi
pemenuhan belanja yaitu memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan tempat
tinggal.
        Kewajiban  memberikan  nafkah  oleh  suami  kepada  istrinya  yang
berlaku dalam fiqh didasarkan kepada  prinsip pemisahan harta antara suami
dan istri, prinsip ini mengikuti alur pikir bahwa suami itu adalah pencari rizki,
rizki yang telah diperolehnya itu menjadi haknya secara penuh dan untuk
selanjutnya suami berkedudukan sebagai pemberi nafkah. Sebaliknya istri
bukan pencari rizki dan untuk memenuhi keperluan keluarganya ia
berkedudukan sebagai penerima nafkah. Oleh karena itu, kewajiban nafkah
tidak relevan dalam komunitas yang mengikuti prinsip penggabungan harta
dalam rumah tangga.
15

        Hukum  membayar  nafkah  untuk  istri  baik  dalam  bentuk  belanja,
pakaian, tempat tinggal adalah wajib. Kewajiban itu bukan disebabkan oleh
karena istri membutuhkannya bagi kehidupan rumah tangga, tetapi kewajiban
yang timbul dengan sendirinya tanpa melihat kepada keadaan istri. Ulama
Syi’ah menetapkan bahwa meskipun istri orang kaya dan tidak memerlukan
                                                 
14
 Imam Al Hafidz Al Fiqhiyah Abi Zakariya Muhyidin Yahya An Nawawi,
Riyadhussalihin, Darul Ulum, Surabaya, t.t, hlm 152-153.
15
 Amir Syarifudin, Hukum perkawinan Islam Di Indonesia, Antara Fiqh Munakahat dan
Undang- undang Perkawinan, edisi 1, cet ke 1, Kencana, Jakarta, 2006, hlm 165- 166. 
  16
bantuan biasa dari suami, namun suami tetap wajib membayar nafkah.
16
 Dasar
kewajiban tersebut terdapat dalam Al- Qur’an Surat Al Baqoroh ayat: 233.

G. Metode Penelitian
1.  Jenis penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian (field research)
yaitu suatu penelitian yang terjun langsung ke lapangan guna mengadakan
penelitian pada obyek yang dibahas.
17

2.  Subyek penelitian
Untuk memperoleh gambaran yang jelas dari proses penelitian
penulis menggunakan subyek penelitian berupa populasi.
18
 Yang menjadi
populasi dalam penelitian ini adalah keluarga TKW di desa Kencandran
Kec. Sidomukti Salatiga. TKW di lokasi penelitian ini banyak, ada yang
sudah berpengalaman dan ada yang masih baru. Yang akan diteliti adalah
keluarga TKW yang minimal sudah bekerja 6 tahun, dengan alasan waktu
enam tahun ini sudah melewati tiga kali kontrak kerja, dan waktu itu
bukan waktu yang singkat dari sini terlihat jelas bahwa istri menjadi
tumpuan keluarga walaupun sifatnya sementara waktu saja.
Penulis tidak menggunakan sample sebab semua TKW yang sudah
bekerja minimal 6 tahun dijadikan responden.
3.  Pengumpulan data
                                                
16
 Ibid, hlm. 166
17
 Erna Widodo Mukhtar,  Konstruksi ke Arah Penelitian Deskriptif, Avyrouz,
Yogyakarta, 2000, hlm. 79.
18
 Suharsimi Arikunto,  Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktek, Rineka Cipta,
Jakarta, 1997, hlm. 115. 
  17
a.  Observasi
Yaitu metode pengumpulan data dengan jalan pengamatan dan
pencatatan secara langsung dengan sistematis terhadap fenomena-
fenomena yang diselidiki.
19
 Dalam observasi penelitian ini dengan
terjun langsung ke lapangan yang akan diteliti. Yaitu datang langsung
ke rumah keluarga TKW.
b.  Wawancara
Wawancara ini digunakan untuk menperoleh beberapa jenis data
dengan teknik komunikasi secara langsung.
20
 
Wawancara ini dilakukan dengan acuan catatan-catatan mengenai
pokok masalah yang akan ditanyakan. Sasaran wawancara adalah
ketua RW dari masing-masing dusun untuk mendapatkan data tentang
jumlah TKW di masing-masing dusun. Untuk mendapatkan data
mengenai realita pemenuhan nafkah kelaurga TKW peneliti akan
mewawancari keluarga TKW.
c.  Dokumentasi
Mencari data mengenai beberapa hal baik yang berupa catatan, data
monografi desa, jumlah TKW di Desa Kecandran, dan lain
sebagainya. Metode ini digunakan sebagai salah satu pelengkap dalam
memperoleh data.
d.  Studi pustaka
                                                
19
 Suharsimi Arikunto,  Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktek, Bina Aksara,
Jakarta, 1987, hlm. 128.
20
 Winarno Surakhmad, Pengantar Penelitian Ilmiah Dasar Metode Teknik, Edisi VII,
CV. Tarsito, Bandung, 1990, hlm. 174. 
  18
Yaitu penelitian yang mencari data dari bahan-bahan tertulis
21
 (berupa
catatan, buku- buku, surat kabar, makalah, dan sebagainya).
4.  Metode analisa data
Setelah seluruh data terkumpul maka barulah penulis menentukan
bentuk analisa terhadap data-data tersebut, antara lain dengan metode :
a.  Deskriptif
Penyelidikan yang menuturkan, menggambarkan, menganalisa dan
mengklasifikasikan penyelidikan dengan teknik survey, interview, dan
observasi.
22

b.  Kualitatif
Penelitian yang tidak mengadakan perhitungan.
23
 Dalam
melaksanakan analisa, peneliti bergerak di antara tiga komponen yaitu
reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan yang
aktifitasnya berbentuk interaksi dengan proses siklus.
Penulis dalam menyusun data tidak menggunakan rumus-rumus
statistik tetapi menggunakan bentuk tabulasi, yaitu penyusunan dalam
bentuk tabel. Lewat tabulasi data lapangan akan tampak ringkas dan
tersusun ke dalam satu tabel yang baik, data dapat dibaca dengan mudah
serta maknanya akan mudah dipahami.
24


                                                
21
 Tatang M. Amirin, Menyusun Rencana Penelitian, Rajawali Pers, Jakarta, 1990, hlm.
135
22
 Winarno Surakhmad, op.cit., hlm. 139
23
 Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, Remaja Rosda Karya, Bandung, 2002,
hlm. 45.
24
 Koentjaraningrat, Metode-Metode Penelitian Masyarakat, Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta, 1994, hlm. 280. 
  19
H.  Sistematika Penulisan
Untuk memberikan gambaran yang jelas tentang judul skripsi yang
akan disusun, maka dirumuskan sistematika sebagai berikut :
BAB I   PENDAHULUAN
A.  Latar belakang masalah
B.  Penegasan istilah
C.  Rumusan masalah
D.  Tujuan dan manfaat penelitian
E.  Telaah pustaka
F.  Kerangka teori
G.  Sistematika penulisan
BAB II  KAJIAN TEORI TENTANG NAFKAH MENURUT
PANDANGAN HUKUM ISLAM
D.  Hak dan Kewajiban Suami Istri Menurut Fiqh
3. Bentuk-bentuk Hak dan Kewajiban Suami Istri
4. Kewajiban Nafkah Suami Istri Menurut Fuqaha
E.  Hak dan Kewajiban Suami Istri Menurut Perundang-undangan
1. Hak dan Kewjiban Suami Menurut Undang-Undang
Perkawinan No. 1 Tahun 1974
2. Hak dan Kewajiban Suami Istri Menurut Kompilasi Hukum
Islam (KHI)
F.  Ketentuan Nafkah Menurut Fiqh
BAB III   DATA HASIL PENELITIAN  
  20
A.  Gambaran umum Desa Kecandran, Kecamatan Sidomukti
Salatiga
B.  Data Tenaga Kerja Wanita di Desa Kecandran, Kecamatan
Sidomukti Salatiga
C.  Faktor Penyebab Istri sebagai Pencari Nafkah Utama pada
Keluarga TKW di Desa Kecandran, Kecamatan Sidomukti
Salatiga
D.  Tasyaruf Gaji Istri Sebagai TKW
E.  Dampak Istri menjadi TKW bagi Keharmonisan Rumah
Tangga
BAB IV  ANALISIS TERHADAP KEHIDUPAN KELUARGA TKW
SEBAGAI PENCARI NAFKAH UTAMA DI DESA
KECANDRAN KECAMATAN SIDOMUKTI SALATIGA
E.  Analisa Faktor Penyebab Istri sebagai Pencari Nafkah Utama
Keluarga TKW di Desa Kecandran, Kecamatan Sidomukti
Salatiga
F.  Analisa Mengenai Tasyaruf Gaji Istri Sebagai TKW
G.  Analisa Dampak Istri Menjadi TKW bagi Keharmonisan
Rumah Tangga
H.  Profesi Istri sebagai TKW dan Pencari Nafkah Utama dalam
Pandangan Hukum Islam
BABV PENUTUP
A.  Kesimpulan
B.  Saran-saran 
  21
BAB II
KAJIAN TEORI TENTANG NAFKAH 
MENURUT PANDANGAN HUKUM ISLAM



A.  Hak dan Kewajiban Suami Istri menurut Fiqh
Islam telah menetapkan ketentuan yang seimbang antara hak dan
kewajiban, bukan hanya dalam rumah  tangga, tetapi juga dalam setiap
permasalahan dan ketentuan yang ada. Hanya Islam yang mampu mengatur
hukum yang berkenaan dengan umatnya pada penempatan masalah secara adil
dan proprsional, tidak ditambah atau dikurangi, karena setiap hamba memiliki
hak dan kewajiban yang sama.
25

Keluarga merupakan dasar dalam membina sebuah masyarakat, dasar
pembentukannya yaitu atas unsur ketakwaan hamba kepada Allah SWT. Hal
ini merupakan perantara menuju jalan kebahagiaan dan kemuliaan Islam
menganjurkan umatnya untuk mendirikan sebuah keluarga atas dasar iman,
Islam dan ihsan yang mana unsur tersebut didasari rasa cinta, kasih dan
sayang, yang pada akhirnya hal ini akan menumbuhkan kerja sama yang baik
antara suami istri dengan modal utamanya yaitu rasa cinta, kasih dan sayang,
saling percaya juga saling menghormati karena setiap muslim itu bersaudara
satu sama lain.
Dalam sebuah keluarga apabila akad nikah telah berlangsung secara
sah, maka konsekwensi yang harus dilaksanakan oleh pasangan suami istri
adalah memenuhi hak dan kewajibannya masing-masing.
                                                 
25
 Abdul Hamid Kisyik. op.cit. hlm. 120. 
  22
1.  Bentuk-bentuk hak dan kewajiban suami istri
Jika aqad nikah sah dan berlaku, maka ia akan menimbulkan akibat
hukum, dan dengan demikian akan menimbulkan pula hak serta kewajiban
selaku suami istri. Hak dan kewajiban itu ada tiga macam yaitu :
a.  Hak istri atas suami
Hak istri yang harus dipenuhi oleh suami terdiri dari hak kebendaan
dan  hak rohaniah.
26

1) Hak kebendaan
a)  Mahar
Diantara hak material istri adalah mahar (mas kawin).
Pemberian mahar dari suami kepada istri adalah termasuk
keadilan dan keagungan Hukum Islam. Jika seorang wanita
diberi hak miliknya atas mahar tersebut.
Firman Allah dalam Surat An-Nisa' (4) : 4
   ْ ѧ ѧ َ ْ ѧ ѧ ُ َ َ ْ ѧ ѧ ِ ْن ِ ѧ ѧ َ ً ѧ ѧ َ ْ ِ ﱠﻦ ِ ِ َ ُ ѧ ѧ َ َء َ ѧ ѧ ﱢﻨ ا اѧѧُاَءَو
ً ِ َ ﺎًﺌﻴِﻨَه ُ ُ ُ َ ﺎًﺴْﻔَﻧ ُ ْ ِ ٍء ْ َ )  ءﺎﺴﻟا : 4 ( 
Artinya : " Berikanlah maskawin kepada wanita (yang kamu
nikahi) sebagai pemberian yang wajib, kemudian
jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian
dari maskawin itu dengan senang hati, maka
makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai
makanan) yang sedap lagi baik akibatnya" (Q.S.
An-Nisa' :4)
27


b)  Belanja (nafkah)
                                                 
26
 Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah Jilid VII, terjemah Fiqhusunnah, PT. Al Ma'arif, Bandung,
t.t., hlm. 53
27
 Departemen Agama RI, op.cit, hlm. 115. 
  23
Yang dimaksud dengan belanja (nafkah) di sini yaitu
memenuhi kebutuhan makan, tempat tinggal, pakaian,
pengobatan istri dan pembantu rumah tangga jika ia seorang
kaya. Hukum memberi belanja terhadap istri adalah wajib.
28

Firman Allah dalam surat Al-Baqarah (2) : 233 disebutkan:
 ...         ِف و ُ ْ َ ْ ѧ ِ ﱠﻦ ُ ُ َ ْ ѧ ِآ َو ﱠﻦ ُ ُ ْز ِر ُ َ ِدﻮُﻟْﻮَﻤْﻟا ﻰَﻠَﻋَو
ﺎَﻬَﻌْﺳُو ﺎﱠﻟِإ ٌ ْ َ ُ ﱠﻠ َ ُ ﺎَﻟ .... 
Artinya : "…dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian
kepada para ibu dengan cara ma'ruf. Seseorang
tidak dibebani melainkan menurut kadar
kesanggupannya.
29


Mengenai kadar nafkah pada dasarnya berapa besar
yang wajib diberikan oleh suami kepada istrinya adalah dapat
mencukupi keperluan secara wajar.
2) Hak bukan kebendaan (rohaniyah)
Diantara hak istri sebagaimana yang telah disebutkan yang
berupa kebendaan itu ada dua macam yaitu mahar dan nafkah.
Sedangkan hak istri yang lainnya adalah berwujud bukan
kebendaan adapun hak tersebut yaitu:
a)  Mendapat pergaulan secara baik dan patut.
30
 Hal ini sesuai
dengan firman Allah dalam surat An-Nisa' ayat 19
 ...         َ ѧ َ َ ﱠﻦ ُه ѧ ُ ُ ْه ِ َآ ْن ِ ѧ َ ِفوُﺮْﻌَﻤْﻟﺎِﺑ ﱠﻦ ُه و ُ ِ َ َو
ا ً ِ َآ اًﺮْﻴَﺧ ِﻪﻴِﻓ ُ ﱠﻠ ا َ َ ْ َ َو ﺎًﺌْﻴَﺷ ا ُه َ ْ َ ْن َأ 
                                                
28
 Sayyid Sabiq, op.cit., hlm. 77.
29
 Departemen Agama RI, op.cit, hlm. 57.
30
 Amir Syarifudin,  Hukum Perkawinan di Indonesia Antara Fikih Munakahat dan
undang-undang perkawinan, edisi. I, Cet I, Kencana, 2006, hlm., 160. 
  24
Artinya :  "…pergaulilah mereka (istri-istrimu) secara baik
kamu tidak menyukai mereka (bersabarlah) karena
mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal
Allah menjadikan padanya kebaikan yang
banyak.
31


Yang dimaksud dengan pergaulan secara khusus di sini
adalah pergaulan suami istri termasuk hal-hal yang berkenaan
dengan pemenuhan kebutuhan seksual. Selain itu suami juga
harus menjaga ucapan dan perbuatannya jangan sampai
merusak atau menyakiti hatinya.
b)  Mendapatkan perlindungan dari segala sesuatu yang mungkin
melibatkannya pada suatu perbuatan dosa dan maksiat atau
ditimpa oleh suatu kesulitan dan mara bahaya. Mendapatkan
rasa tenang, kasih sayang, dan rasa cinta dari suami.
32
 
c)  Pembatasan kelahiran
Dalam Islam disebutkan menyukai banyak anak karena
hal ini sebagai tanda dari adanya kekuatan daya pertahanan
terhadap umat-umat dan bangsa lain. Sebagaimana dikatakan
bahwa kebesaran adalah terletak pada keturunan yang banyak,
karena itu Islam mensyari'atkan kawin.
33

Namun dalam keadaan istimewa Islam tidak
menghalangi pembatasan kelahiran dengan cara pengobatan
guna mencegah kehamilan atau cara-cara lain. Pembatasan
kelahiran ini dibolehkan bagi laki-laki yang sudah banyak
                                                 
31
 Departemen Agama RI, op.cit, hlm. 119
32
 Amir Syarifudin, op.cit., hlm. 161.
33
 Sayyid Sabiq, op.cit., hlm. 121. 
  25
anaknya dan tidak sanggup lagi memikul beban pendidikan
anaknya dengan sebaik-baiknya begitu pula kalau istri
keadaannya lemah atau mudah hamil atau suami dalam
keadaan miskin.
b.  Hak suami atas istri
Hak-hak suami yang wajib dipenuhi istri adalah hak-hak yang
sifatnya bukan benda, mengapa demikian? Sebab menurut ketentuan
Hukum Islam istri tidak dibebani kewajiban kebendaan yang
diperlukan untuk mencukupkan kebutuhan hidup keluarga. Bahkan
lebih diutamakan istri tidak bekerja mencari nafkah, jika suami
memang mampu memenuhi kewajiban nafkah keluarga dengan baik.
Hal ini dimaksudkan agar istri dapat mencurahkan perhatiannya untuk
melaksanakan serta membina keluarga. Kewajiban ini cukup berat
bagi istri yang memang benar-benar akan melaksanakannya dengan
baik.
Sesuatu yang menjadi hak suami merupakan kewajiban bagi
istri untuk melaksanakannya adapun kewajiban istri terhadap
suaminya yaitu:
1) Menggauli suaminya secara layak sesuai dengan kodratnya
2) Memberikan rasa tenang dalam rumah tangga untuk suaminya, dan
memberikan rasa cinta dan kasih sayang kepada suaminya dalam
batas-batas yang berada dalam kemampuannya. 
  26
3) Taat dan patuh pada suami selama suaminya tidak menyuruhnya
untuk melakukan perbuatan maksiat kewajiban ini sesuai dengan
firman Allah Surat An-Nisa' ayat 34.
 ...     َ ѧ ѧ ِ َ ѧѧَﻤِﺑ ِ ѧ ѧ ْ َ ْ ِ ٌت ѧ ѧ َ ِ َ ٌتѧѧَﺘِﻧﺎَﻗ ُتﺎَﺤِﻟﺎﱠﺼѧѧﻟﺎَﻓ
ُﻪﱠﻠﻟا .... 
Artinya : "…perempuan-perempuan yang saleh ialah perempuan
yang taat kepada Allah (dan patuh kepada suami)
memelihara diri ketika suaminya tidak ada oleh karena
Allah telah memelihara mereka…".
34


4) Menjaga dirinya dan menjaga harta suaminya bila suaminya
sedang tidak berada di rumah.
5) Menjauhkan dirinya dari segala sesuatu perbuatan yang tidak
disenangi oleh suaminya.
6) Menjauhkan dirinya dari memperlihatkan muka yang tidak enak
dipandang dan suara yang tidak enak didengar.
35

c.  Hak bersama suami istri
1) Halal saling bergaul dan bersenang-senang diantara keduanya
2) Haram melakukan perkawinan
Setelah akad nikah di sini terjadi hubungan suami dengan keluarga
istrinya dan sebaliknya hubungan istri dengan keluarga suaminya,
akibatnya istri haram dinikahi oleh ayah suaminya, datuknya,
anaknya, cucunya begitu juga ibu istrinya, anak perempuannya dan
seluruh cucunya haram dinikahi oleh suaminya.
3) Hak untuk saling mendapat warisan
                                                
34
 Departemen Agama RI, op.cit, hlm. 123.
35
 Amir Syarifudin, op.cit., hlm. 162-163. 
  27
Akibat dari ikatan perkawinan yang sah adalah bila salah seorang
meninggal dunia sesudah sempurnanya ikatan perkawinan maka
akan mendapatkan warisan.
36

Selain hak bersama antara suami istri, dalam fiqh juga
disebutkan mengenai tanggung jawab diantara keduanya secara
bersama-sama setelah terjadinya perkawinan. Kewajiban itu ialah:
1) Memelihara dan mendidik anak keturunan yang lahir dari
perkawinan tersebut.
2) Memelihara kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawadah dan
rohmah.
37

2.  Kewajiban nafkah suami menurut fuqaha
Keempat Imam madzhab yaitu Maliki, hanafi, Shafi'i, dan Hambali
sepakat bahawa memberikan nafkah itu hukumnya wajib setelah adanya
ikatan dalam sebuah perkawinan. Akan tetapi keempat imam madzhab
memiliki perbedaan mengenai kondisi, waktu dan tempat, perbedaan
tersebut terletak pada waktu, ukuran, siapa yang wajib mengeluarkan
nafkah dan kepada siapa saja nafkah itu wajib dberikan. Keempat imam
madzhab sepakat bahawa nafkah meliputi sandang, pangan dan tempat
tinggal.
38

Adapun pendapat dari masing-masing fuqaha sebagai berikut :
a.  Madzhab Maliki
                                                
36
 Sayyid Sabiq, op.cit., hlm. 52.
37
 Amir Sarifudin, op.cit., hlm. 163-164.
38
 Abdur Rohman Al Jaziri, Kitab Fiqh al madzahib al Arba'ah, Juz 4, Al Maktabah Al
Tijariyyah Al Kubro, Mesir, 1969, hlm. 553  
  28
Menurut Imam Malik mencukupi nafkah keluarga merupakan
kewajiban ketiga dari seorang suami setelah membayar mahar dan
berlaku adil kepada istri. Kalau terjadi perpisahan antara suami dan
istri, baik karena cerai atau meninggal dunia maka harta asli istri tetap
menjadi milik istri dan harta asli milik suami tetap menjadi milik
suami, menurut madzhab Maliki waktu berlakunya pemberian nafkah
wajib apabila suami sudah mengumpuli istrinya. Jadi nafkah itu tidak
wajib bagi suami sebelum ia berkumpul dengan istri.
39

Sedangkan mengenai ukuran atau banyaknya nafkah yang
harus dikeluarkan adalah disesuaikan dengan kemampuan suami.
Nafkah ini wajib diberikan kepada istri yang tidak nusuz. Jika suami
ada atau masih hidup tetapi dia tidak ada ditempat atau sedang
bepergian suami tetap wajib mengeluarkan nafkah untuk istrinya.
40

b.  Madzhab Hanafi
Menurut Imam Hanafi mencukupi nafkah istri merupakan
kewajiban kedua dari suami setelah membayar mahar dalam sebuah
pernikahan. Nafkah diwajibkan bagi suami selama istri sudah baligh.
41

Mengenai jumlah nafkah yang wajib dipenuhi oleh suami
terhadap istri disesuaikan dengan tempat kondisi dan masa. Hal ini
dikarenakan kemampuan antar satu orang dengan orang yang lain
berbeda. Pembedaan jumlah nafkah itu berdasarkan pada pekerjaan
                                                
39
 Imam Qodzi Abu Walid Muhammad bin Ahmad, Bidayatul Mujtahid, Juz 3, Dar Al-
Fikr, t.t., hlm. 41
40
 Ibid., hlm. 42
41
 Ibid., 
  29
suami, jadi kadar atau jumlah nafkah bisa berbeda-beda antara
keluarga yang satu dengan yang lain.
42
 Pendapat Imam Hanafi
menyebutkan bahwa nafkah wajib diberikan kepada istri yang tidak
nusuz.
43
 Tetapi jika suami masih hidup dia tidak berada ditempat
maka suami tidak wajib memberikan nafkah kepada istri.
44

c.  Madzhab Syafi'i
Menurut Imam Syafi'i hak istri sebagai kewajiban suami
kepada istrinya adalah membayar nafkah. Nafkah tersebut meliputi,
pangan, sandang, dan tempat tinggal. Nafkah wajib diberikan kepada
istrinya yang sudah baligh. Sedangkan mengenai ukuran nafkah yang
wajib diberikan kepada istri berdasarkan kemampuan masing-masing.
Adapun perinciannya yakni jika suami orang mampu maka nafkah
yang wajib dikeluarkan setiap hari adalah 2 mud, menengah 1 1/2
mud, dan jika suami orang susah adalah 1 mud.
45
 Nafkah tersebut
wajib diberikan kepada istri yang tidak nusuz selama suami ada dan
merdeka.
d.  Madzhab Hambali
Menurut Hambali suami wajib membayar atau memenuhi nafkah
terhadap istrinya jika pertama istri tersebut sudah dewasa dan sudah
dikumpuli oleh suami, kedua, istri (wanita) menyerahkan diri
                                                
42
 Ibid.
43
 Ibid.
44
 Ibid.
45
 Ibid., hlm. 42 
  30
sepenuhnya kepada suaminya.
46
 Nafkah yang wajib dipenuhi oleh
suami meliputi makanan, pakaian, dan tepat tinggal.
47
 Memberikan
makanan ini wajib, setiap harinya yaitu dimulai sejak terbitnya
matahari.
48
 Sedangkan mengenai nafkah yang berwujud pakaian itu
disesuaikan dengan kondisi perekonomian suami. Bila istri memakai
pakaian yang kasar maka diwajibkan bagi suami memberi kain yang
kasar juga untuk tempat tinggal  kewajiban disesuaikan menurut
kondisi suami.
49
 

B.  Hak dan Kewajiban Suami Istri Menurut Perundang-undangan
Pembahasan tentang hak dan kewajiban, suami istri menurut
perundang-undangan diatur dalam undang-undang nomor 1 tahun 1974
tentang perkawinan dan kompilasi hukum Islam. Dalam UUP No. 1 tahun
1974 diatur dalam BAB VI pasal 30 sampai pasal 34, sedangkan dalam KHI
diatur dalam BAB XII pasal 77 sampai pasal 84.
1.  Hak dan Kewajiban Suami Menurut Undang-Undang Perkawinan No. 1
Tahun 1974
Pembahasan hak dan kewajiban suami istri diatur dalam BAB VI
pasal 30 sampai pasal 34.
Pasal 30 berbunyi sumai istri memikul kewajiban yang luhur untuk
menegakkan rumah tangga yang menjadi sendi dasar dari susunan
masyarakat.
                                                
46
 Abdur Rohman Al Jaziri, log.cit., hlm. 553
47
 Ibid.,
48
 Ibid., hlm. 561
49
 Ibid., hlm. 562 
  31
Pasal 31 UU No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan menyatakan :
(1)  Hak dan kedudukan istri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan
suami dalam kehidupan rumah tangga dan pergaulan hidup bersama
dalam masyarakat.
(2)  Masing-masing pihak berhak untuk melakukan perbuatan hukum
(3)  Suami adalah kepala keluarga dan istri ibu rumah tangga
Selanjutnya pasal 32 UU perkawinan menegaskan
(1) Suami istri harus mempunyai tempat kediaman yang tetap
(2) Rumah tempat kediaman yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini
ditentukan oleh suami istri bersama.
Dalam pasal 33 UU perkawinan menegaskan, "suami istri wajib
saling mencintai, hormat menghormati, setia dan memberi bantuan lahir
batin yang satu kepada yang lain."
Pasal 34 UU Perkawinan disebutkan :
(1)  Suami wajib melindungi istrinya dan memberikan segala sesuatu
keperluan hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuannya.
(2)  Istri wajib mengatur urusan rumah tangga sebaik-baiknya
(3)  Jika suami atau istri melalaikan kewajibannya masing-masing dapat
mengajukan gugatan kepada pengadilan50

2.  Hak dan Kewajiban Suami Istri menurut KHI (Kompilasi Hukum Islam)
a.  Kewajiban suami
                                                
50
 Undang-Undang Perkawinan di Indonesia, Arkola, Surabaya, 15-16. 
  32
Pasal 80 kompilasi Hukum Islam mengatur kewajiban suami
terhadap istri dan keluarganya. Pasal ini terdiri dari 7 ayat, sebagai  
berikut :
(1)  Suami adalah pembimbing terhadap istri dan rumah tangganya,
akan tetapi mengenai hal-hal urusan rumah tangga yang penting-
penting diputuskan oleh suami istri bersama.
(2)  Suami wajib melindungi istrinya dan memberikan segala sesuatu
keperluan hidup berrumah tangga sesuai dengan kemampuannya.
(3)  Suami wajib memberi pendidikan agama kepada istrinya dan
memberi kesempatan belajar pengetahuan yang berguna dan
bermanfaat bagi agama, nusa dan bangsa.
(4)  Sesuai dengan penghasilannya suami menanggung :
(a) Nafkah, kiswah, dan tempat kediaman bagi istri
(b) Biaya rumah tangga, biaya perawatan dan biaya pengobatan
bagi istri dan anak
(c) Biaya pendidikan anak
(5) Kewajiban suami terhadap istrinya seperti tersebut pada ayat (4)
huruf a dan b di atas berlaku sesudah ada tamkin sempurna dari
istrinya.
(6)  Istri dapat membebaskan suaminya dari kewajiban terhadap dirinya
sebagaimana tersebut pada ayat (4) huruf a dan b. 
  33
(7) Kewajiban suami sebagaimana dimaksud ayat (5) gugur apabila
istri nusyuz.
51

Tentang kewajiban suami untuk menyediakan tempat
kediaman, kompilasi mengaturnya tersendiri dalam pasal 81 sebagai
berikut :
(1) Suami wajib menyediakan tempat kediaman bagi istri dan anak-
anaknya atau bekas istri yang masih dalam iddah
(2) Tempat kediaman adalah tempat tinggal yang layak untuk istri
selama dalam ikatan perkawinan, atau dalam iddah talak atau
iddah wafat.
(3) Tempat kediaman disediakan untuk melindungi istri dan anak-
anaknya dari gangguan pihak lain, sehingga mereka merasa aman
dan tentram, tempat kediaman juga berfungsi sebagai tempat
menyimpan harta kekayaan, sebagai tempat menata dan mengatur
alat-alat rumah tangga.
(4) Suami wajib melengkapi tempat kediaman sesuai dengan
kemampuan serta disesuaikan dengan keadaan lingkungan tempat
tinggalnya, baik berupa alat perlengkapan rumah tangga maupun
sarana penunjang lainnya.
52

b.  Kewajiban istri
                                                
51
 H.Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, Akademika Presindo, Jakarta,
1995, hlm. 132-133.
52
 Ibid, hlm. 133. 
  34
Adapun kewajiban istri terhadap suami yang secara garis besar
terdapat dalam Kompilasi Hukum Islam diatur secara lebih rinci
dalam pasal 83 dan 84.
Pasal 83 :
(1) Kewajiban utama bagi seorang istri adalah berbakti lahir dan batin
kepada suami di dalam batas-batas yang dibenarkan oleh hukum
Islam.
(2)  Istri menyelenggarakan dan mengatur keperluan rumah tangga
sehari-hari dengan sebaik-baiknya.
53

Pasal 84 :
(1) Istri dapat dianggap nusyuz jika ia tidak mau melaksanakan
kewajiban-kewajiban sebagaimana dimaksud dalam pasal 83 ayat
(1) kecuali dengan alasan yang sah.
(2) Selama istri dalam nusyuz, kewajiban suami terhadap istrinya
tersebut pada pasal 80 ayat (4) huruf a dan b tidak berlaku kecuali
hal-hal untuk kepentingan anaknya.
(3) Kewajiban suami tersebut pada ayat (2) diatas berlaku kembali
sesudah istri tidak nusyuz.
(4) Ketentuan tentang ada atau tidak adanya nusyuz dari istri harus
didasarkan bukti yang sah.
54

c.  Kewajiban bersama antar suami istri
                                                
53
 Ibid, hlm. 134.
54
 Ibid., 
  35
Masalah hak dan kewajiban suami istri dalam Kompilasi
Hukum Islam diatur dalam Bab XII pasal 77 sampai pasal 84.
Pasal 77 ayat (1) berbunyi : "Suami istri memikul kewajiban
yang luhur untuk menegakkan rumah tangga yang sakinah, mawadah
dan rahmah yang menjadi sendi dasar dari susunan mayarakat".
Selanjutnya dalam pasal 77 ayat (2), (3), (4), (5) berturut-turut
dikutip dibawah ini:
Suami istri memikul kewajiban untuk mengasuh dan
memelihara anak-anak mereka, baik mengenai pertumbuhan
jasmani, rohani, maupun kecerdasannya, dan pendidikan
agamanya.
Suami istri wajib memelihara keharmonisannya. Jika
suami/istri melalaikan kewajibannya, masing-masing dapat
mengajukan gugatan kepada pengadilan agama.
55


Pasal 79 :
(1)  Suami adalah kepala rumah tangga keluarga dan istri ibu rumah
tangga.
(2) Hak dan kedudukan istri adalah seimbang dengan hak dan
kedudukan suami dalam rumah tangga dan pergaulan hidup
bersama dalam masyarakat.
(3) Masing-masing pihak berhak untuk melakukan perbuatan hukum.
56


C.  Ketentuan Nafkah Menurut Fiqh
Secara harfiah nafkah artinya belanja. Adapun pengertian nafkah ialah
uang atau harta yang dikeluarkan untuk suatu keperluan atau untuk membayar
suatu kebutuhan yang dinikmati seseorang. Yang dimaksud nafkah di sini
                                                
55
 Ibid, hlm. 132
56
 Ibid, 
  36
adalah semua macam belanja yang dikeluarkan oleh seseorang untuk
memenuhi keperluan hidup suami, istri, dan anak-anaknya.
57

Adapun dasar kewajiban suami menafkahi istri yaitu dalam firman
Allah Surat al Baqarah (2) ayat 233 yang berbunyi :
ß
Nt
!u
θø
9$
#u
ρ   z
÷
èÅ
Êö
ã
ƒ   £
è
δy
‰≈s
ρr
&   È
÷
,s
θy
m   È
÷
n
Β%x
.   (   ô
y
ϑÏ
9   y
Š#u
‘r
&   βr
&   ¨
ΛÉ
ã
ƒ   s
πt
ã$|
ʧ
9$
#   4   ’n
?t
ãu
ρ 
Ï
Šθä
θp
Q$
#   …ã
&s
!   £
ß
γè
—Í
   £
å
κè
Eu
θó
¡Ï
.u
ρ   Å
ρã
÷
èp
Q$
/ .... 
Artinya : "Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun
penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. dan
kewajiban ayah memberi makan dan Pakaian kepada para ibu
dengan cara ma'ruf…."
58


Ayat tersebut menegaskan bahwa ayah diwajibkan menanggung segala
kebutuhan makan dan pakaian ibu yang menyusi anaknya sekalipun telah
diceraikan oleh ayah anaknya. Jika terhadap mantan istri yang masih
menyusui anaknya seorang laki-laki diwajibkan menafkahinya, apalagi
terhadap perempuan yang masih menjadi istrinya, sudah tentu lebih patut
untuk dinafkahi.
59

Kewajiban suami menafkahi istri bukanlah didasarkan pada tradisi,
budaya, adat istiadat masyarakat, atau warisan kebudayaan. Islam menetapkan
kewajiban memberi nafkah kepada istri sebagai suatu perintah illahiah. Yaitu
perintah yang dikeluarkan sendiri oleh Allah kepada hamba-Nya. Oleh karena
                                                
57
 Muhammad Thalib,  Ketentuan Nafkah Istri dan Anak, Cet. I, Irsyad Baitus Salam,
Bandung, 2000, hlm. 19
58
 Departemen Agama RI, op.cit., hlm. 57.
59
 Muhammad Thalib, op.cit., hlm. 21. 
  37
itu, seorang suami yang tidak menunaikan kewajiban memberi nafkah kepada
istrinya telah berdosa kepada istri dan berdosa kepada Allah.
60

Kewajiban membelanjai istrinya dimulai sejak adanya ikatan
perkawinan yang sah. Seorang istri menjadi terikat semata-mata kepada
suaminya, dan tertahan sebagai miliknya. Kewajiban ini berlaku selama ikatan
suami istri masih berjalan dan istri tidak durhaka atau karena ada hal-hal lain
yang menghalangi penerimaan belanja. Adapun bentuk-bentuk tindakan istri
yang dapat dikategorikan durhaka (nusyuz) antara lain istri membangkang
terhadap suami, tidak mematuhi ajakan suami atau perintahnya, keluar rumah
tanpa izin suami.
61

Jumlah nafkah yang berhak diterima istri tidak ada ketetapan yang
pasti. Jumlah (kadar) sandang dan pangan yang wajib ditunaikan suami
disesuaikan dengan kemampuan suami.
62
 Sebagaimana Allah berfiran dalam
surat At Thalaq (65) : 7 
÷
Ψã
‹Ï
9   ρè
Œ   7
πy
èy
   Ï
i
Β   Ï
µÏ
Fy
èy
   (   t
Βu
ρ   u
‘Ï
‰è
%   Ï
µø
‹n
=t
ã   …ç
µè
—Í
   ÷
Ψã
‹ù
=s
ù   !
ϑÏ
Β   ç
µ9s
?#u
   ª
!$
#   4   Ÿ
ω 
ß
k
=s
ƒ   ª
!$
#  
¡ø
t
Ρ  
ωÎ
)   !
$t
Β   $y
γ8s
?#u
   4   ã
y
èô
fu
Šy
   ª
!$
#   y
‰÷
èt
/   9
ô
£ã
ã   #Z
ô
£ç
 
Artinya : "Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut
kemampuannya. dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah
memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya.
Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan
sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan
memberikan kelapangan sesudah kesempitan"
63


                                                
60
 Ibid., hlm. 22-23
61
 Ahmad Rofiq, op.cit, hlm. 191
62
 Khoirudin Nasution,  Islam tentang Relasi Suami dan Istri (Hukum Perkawinan I)
Dilengkapi Perbandingan Unadang-Undang Negara Muslim, Tazzafa Academia, Yogyakarta,
2004, hlm. 181.
63
 Departemen Agama RI, op.cit., hlm. 946. 
  38
Pada ayat tersebut di atas suami diperintahkan untuk memberikan
nafkah kepada istri sesuai dengan kemampuan atau pendapatan yang
dimilikinya. Disamping itu, ayat tersebut di atas juga mengingatkan istri agar
dalam menuntut hak nafkah dari suami benar-benar mempertimbangkan
kemampuan suaminya.
64

Masing-masing orang tentu memiliki kemampuan serta pendapatan
ekonomi yang berlainan, maka dari itu besarnya nafkah untuk istri dan anak-
anak dapat menjadi perbedaan setiap keluarga. Oleh karena itu, jika suami
memiliki kemampuan lebih maka ia berkewajiban untuk memberikan makan
dan pakaian yang layak kepada istri dan anak-anaknya.
























                                                
64
 Muhammad Thalib, op.cit., hlm. 65 
  39
BAB III
DATA HASIL PENELITIAN 


A.  Gambaran Umum Desa Kecandran, Kecamatan Sidomukti, Salatiga
1.  Letak geografis
Kecandran adalah salah satu desa yang berada di Kecamatan
Sidomukti Kota Salatiga, dengan luas wilayah kelurahan 400,4 ha. Desa
ini terletak di sebalah barat Kota Salatiga. Yang terdiri dari enam RW dan
dua puluh tiga RT yaitu RW I (Winong) mempunyai empat RT, RW II
(Gedongan) terdiri dari tiga RT, RW III (Karang Padang) terdiri dari tiga
RT, RW IV (Sawahan) terdiri dari tiga RT, RW V (Ngalian) terbagi atas
empat RT, dan RW VI (Gamol) yang terdiri dari enam RT.
Adapun batas-batas wilayahnya adalah sebagai berikut :
a.  Sebelah utara   : Desa Pulutan
b.  Sebelah selatan   : Desa Polobugo
c.  Sebelah barat   : Desa Gedangan
d.  Sebelah timur   : Kelurahan Sidorejo dan Dukuh
2.  Keadaan penduduk
Kelurahan Kecandran memiliki jumlah kepala keluarga sebanyak
1.285 KK dengan jumlah penduduk 4859 jiwa. Pembagian penduduk
sebagai berikut : 
  40
TABEL I
JUMLAH PENDUDUK
MENURUT KELOMPOK UMUR TAHUN 2007 
No  Kelompok Umur  Jumlah 
1   0 – 4 tahun  370 
2   5 – 9 tahun  358 
3   10 – 14 tahun  403 
4   15 – 19 tahun  456 
5   20 – 24 tahun  486 
6   25 – 29 tahun  515 
7   30 – 39 tahun  823 
8   40 – 49 tahun  664 
9   50 – 59 tahun  383 
10   60 + tahun  401 
 JUMLAH  4859 

TABEL II
JUMLAH PENDUDUK
MENURUT JENIS KELAMIN TAHUN 2007
No  Jenis Kelamin  Jumlah 
1 
2 
Laki-laki 
Perempuan 
2.425 
2.434 
Jumlah  4.859 
 
  41
TABEL III
JUMLAH PENDUDUK
MENURUT TINGKAT PENDIDIKAN TAHUN 2007
(Bagi umur 5 tahun ke atas)
No  Tingkat Pendidikan  Jumlah 
1  Tamat Akademik/PT  200 orang 
2  Tamat SLTA  787 orang 
3  Tamat SLTP  710 orang 
4  Tamat SD  1774 orang 
5   Tidak tamat SD  468 orang 
6  Belum tamat SD  382 orang 
7  Tidak sekolah  168 orang 
  4489  orang 

TABEL IV
JUMLAH PENDUDUK
MENURUT MATA PENCAHARIAN TAHUN 2007
(Bagi umur 10 tahun ke atas)
No  Pekerjaan   Jumlah 
1  Petani sendiri  184 orang 
2  Buruh tani  968 orang 
3  Nelayan  0 orang 
4  Pengusaha  32 orang 
5  Buruh industri  555 orang 
6  Pedagang  169 orang  
  42
No  Pekerjaan   Jumlah 
7  Buruh bangunan  273 orang 
8  Pengangkutan  41 orang 
9  Pegawai negeri
(Sipil/TNI/Polri) 
114 orang 
10  Pensiunan  29 orang 
11  Lain-lain  1766 orang 
  4131 orang 

Data monografi tentang jumlah penduduk berdasar mata
pencaharian (Tabel IV) tidak mencantumkan sektor tenaga kerja migran
secara jelas. Menurut penuturan tokoh dan penduduk setempat
menunjukkan bahwa di wilayah kelurahan Kecandran sekitar 40%
penduduknya pernah menjadi TKW. Kondisi ini dapat dilihat dari data
yang telah diperoleh di beberapa dusun. 
TABEL V
JUMLAH MUTASI PENDUDUK TAHUN 2007

No  Mutasi  Laki-laki  Perempuan  Jumlah
1 
2 
3 
4 
Pindah 
Datang 
Lahir 
Mati 
-   5 tahun 
1 
7 
2 

0 
2 
5 
0 

3 
3 
12 
2 

3  
  43
No  Mutasi  Laki-laki  Perempuan  Jumlah
-   Kurang 5 tahun  0  0  0 

TABEL VI
JUMLAH MUTASI PENDUDUK TAHUN 2007

No  Agama  Jumlah 
1  Islam  4799 orang 
2  Katholik  57 orang 
3  Kristen Protestan  28 orang 
4  Budha  5 orang 
5  Hinda  0 orang 
Jumlah  4889  orang 

3.  Keadaan pembangunan sarana sosial
TABEL VII
JUMLAH TEMPAT IBADAH TAHUN 2007

No  Tempat Ibadah  Jumlah 
1  Masjid  7 buah 
2  Mushola   16 buah 
3  Gereja  - 
4  Kuil   - 
Jumlah  23  buah 
 
  44
TABEL VIII
JUMLAH TEMPAT IBADAH TAHUN 2007

No  Tempat Ibadah  Jumlah 
1  Rumah sakit  
2  BKIA/Klinik  
3   Puskesmas + Pustu  1 orang 
4  Dokter/perawat  1 orang 
5  Bidan/Dukun  1 orang 
  3  orang 

TABEL IX
JUMLAH SEKOLAH 
(Tempat Pendidikan) Tahun 2007

No  Tempat Ibadah  Jumlah 
1   TK & RA  3 buah 
2  SD  2 buah 
3  Madrasah Ibtidayiah  1 buah 
Jumlah  6  buah 

4.  Bidang Pemerintahan Dari Kemasyarakatan
TABEL X
JUMLAH SARANA PEMERINTAHAN TAHUN 2007
No  Jenis Sarana  Jumlah 
1   Balai Desa / Kelurahan  1 buah 
2  Kantor Keluarahan  1buah 
3   Tanah Bengkok Pamong Desa  
 
  45
No  Jenis Sarana  Jumlah 
a .   Sawah 
b .   Kering 
c .   Tambak / kolam 
d .   Tanah gege 
21.3 Ha 
10 Ha 
11.3 Ha 
- 
4 Ha 
  Jumlah   

TABEL XI
JUMLAH SARANA PEREKONOMIAN TAHUN 2007
No  Jenis Sarana  Jumlah 
1   Toko / Kios / warung  11 
2  Perusahaan  6 
3  Industri  1 
4   Industri besar / sedang  1 
5  Industri kecil  4 
6  Rumah makan  3 
7  Perdagangan   4 
8  Angkutan   5 
  Jumlah   35 

5.  Keadaan Sosial Ekonomi Masyarakat
Bidang ekonomi merupakan salah satu bidang yang amat penting
dalam proses pembangunan potensi ekonomi yang dimiliki oleh masing-
masing individu cukup berpengaruh pada perekonomian itu sendiri, sesuai 
  46
Lurah
Muslih
Kelompok Jabatan
Fungsional
Sekretaris 
Yusuf Wibisono, SH
Sek. Pemerintahan
Pramana 
Sek. Tramtib
Subirman 
Sek.
Pembangunan
M. Affanadi 
Sek. Kesra
Suyati 
kondisi geografisnya, sebagian besar masyarakat desa Kecandran
Kecamatan Sidomukti Salatiga bermata pencaharian sebagai petani dan
buruh industri maupun buruh tani. Dilihat dari penghasilannya kebanyakan
dari mereka adalah masyarakat dari kelas ekonomi menengah.
6.  Struktur Organisasi Kelurahan Kecandran Kecamatan Sidomukti Salatiga
STRUKTUR ORGANISASI KELURAHAN KECANDRAN
KECAMATAN SIDOMUKTI SALATIGA











 
  47
B.  Data Tenaga Kerja Wanita Di Desa Kecandran Kecamatan Sidomukti
Salatiga
TABEL XII
JUMLAH TKW SECARA KESELURUHAN DI DESA KECANDRAN
KECAMATAN SIDOMUKTI SALATIGA


No Istri  Suami  Pekerjaan suami Alamat
1  Zulaikah   Khoeri  Buruh Bangunan  Winong
2 Badriah   Rosidin  Buruh pabrik  Winong
3  Laseni   Fatkhur  Tukang kayu  Winong
4 Rohmatun   Makhrus  Menganggur  Winong
5 Soimatun   Djamil  Menganggur  Winong
6  Sri   Ditinggal suami  -  Winong
7 Dewi   Tashom  Sales  Winong
8 Tabiatun   Meninggal  -  Winong
9 Wasik   Saefudin  Srabutan  Winong
10 Mualifatun   Slamet  Petani  Winong
11  Tammimah   Tikman  Penjual roti keliling  Gedongan
12  Musri'ah    Nashori  Menganggur  Karang padang
13 Masiyah   Meninggal  -  Sawahan
14 Nur Khotimah  Yudi  Buruh bangunan  Sawahan
15 Nur Yanah  Meninggal  -  Duren
16 Muntamah   Meninggal  -  Duren
17 Marni   Yanto  Kernet angkutan  Duren
18  Sulasih   Sugimin  Srabutan   Duren
19  Giyem   Trimo  TKI di Malaysia  Duren
20 Pariah   Meninggal  -  Duren
21 Khotimah   Meninggal  -  Ngalian
22 Giyati   Meninggal  -  Ngalian 
  48
No Istri  Suami  Pekerjaan suami Alamat
23 Kosiem   Abbas  Srabutan  Ngalian
24 Fatim   Somo  Sopir  Ngalian
25 Gimah   Meninggal  -  Ngalian
26 Koryah   Musyaka  Sopir  Ngalian
27  Istikomah   Mukhtar Sudi  Sopir  Ngalian
28 Jumarni   Legimin  Petani  Gamol
29 Soimah   Tohari  Petani  Gamol
30 Parmi   Parmin  Petani  Gamol
31 Surip   Muslimin  Petani  Gamol
32  Fazirotun   Jumain  Petani / ternak  Gamol
33  Lastri   Saimin  Petani / ternak  Gamol
34 Ginem   Mu'min  Petani  Gamol
35 Prihati   Wagimin  Petani  Gamol
36 Jumiati   Gunari  Petani  Gamol
37  Muni'ah   Ngatiman   Petani  Gamol
38  Lasmi     Jualan roti keliling  Gamol
39  Mijah     Buruh srabutan  Gamol
40  Yasti     Usaha jual beli kayu  Gamol
41 Jumanji     Menganggur  Gamol
42  Warsini     Penjual pentol cilok  Gamol
43  Keti     Tukang gigi, ternak  Gamol
44 Titik     Menganggur  Gamol
45  Sami     Buruh lalu bercerai  Gamol
46  Tumiyem      Jualan roti keliling  Gamol
Sumber : Hasil wawancara dengan ketua RW ditiap dusun 
Data secara keseluruhan tersebut di atas merupakan hasil
wawancara dengan ketua RW dari masing-masing keluarga dusun. Jadi,
dengan demikian belum semua nama-nama keluarga TKW tercatat semua. 
  49
Dari keterangan responden menyebutkan nama-nama tersebut hanya
sebatas seingatannya saja, karena ketua RW tidak memiliki data secara
tertulis tentang warga yang bekerja menjadi TKW.

C.  Kehidupan Keluarga TKW Di Desa Kecandran Kecamatan Sidomukti
Salatiga
TABEL XIII
DAFTAR KELURGA TKW SEBAGAI RESPONDEN

No
Nama
Responden
Lama Bekerja  Tempat Bekerja  Alamat
1  ZK  16 tahun   Arab Saudi  Winong
2  LS  10 tahun   Arab Saudi  Winong
3  RM  17 tahun   Arab Saudi  Winong
4  SM  11 tahun   Arab Saudi  Winong
5  SR  8 tahun   Hongkong   Winong
6  DW  6 tahun   Hongkong   Winong
7  MF  13 tahun   Arab Saudi  Winong
8  TM  15 tahun   Arab Saudi  Gedongan
9  MR  15 tahun   Arab Saudi  Karang padang
10  MS  20 tahun   Arab Saudi  Sawahan
Sumber : Hasil wawancara terhadap 10 responden
Dari daftar tersebut di atas, yang menjadi responden dari penelitian
ini hanya 10 responden yang terdiri dari 4 dusun saja. Pemilihan 
  50
responden tersebut berdasar pada lama waktu bekerja istri sebagai TKW,
selain itu pemilihan responden tersebut dilihat dari pekerjaan suami.
Karena dari sini dapat dilihat bahwa istri sebagai pencari nafkah utama
dalam keluarga.
Dari kesepuluh responden tersebut dapat dilihat pekerjaan suami
adalah sebagai buruh bangunan, tukang kayu, sales, petani, penjual roti
keliling. Selain itu ada beberapa di antara mereka yang tidak memiliki
pekerjaan, tidak memiliki suami, bahkan ada yang ditinggal mati oleh
suami.
1.  Keluarga ZK
Berdasarkan hasil wawancara, suami ZK bekerja sebagai buruh
bangunan. Ia berpenghasilan kurang lebih Rp. 20.000,00 per hari.
Pekerjaan ini dimulai sejak pukul 08.00 – 16.00. Pekerjaan tersebut
ditekuni suami ZK sejak ia muda. Hal ini dikarenakan minimnya
tingkat pendidikan suami ZK sehingga memiliki kemampuan yang
terbatas. Dengan upah Rp. 20.000,00 per hari, jika ZK dan suami tidak
memiliki anak akan dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari, paling
tidak cukup untuk makan setiap harinya. ZK memiliki dua orang anak
perempuan, sejak anaknya lahir situasi dan keadaan rumah tangga jadi
berubah karena biaya hidup tidak hanya untuk ZK dan suaminya saja,
tetapi juga untuk buah hatinya.
65

                                                
65
 Hasil wawancara dengan Khoeri (suami Zulaikah) pada tanggal 10 September 2007  
  51
Pengelolaan uang kiriman keluarga ZK sepenuhnya di
serahkan kepada suami. Suami adalah orang terdekat dibandingkan
dengan anggota keluarga yang lain, selain itu jika uang di kirim
melalui suami, ia adalah orang yang tahu kebutuhan kelurga, baik dari
kebutuhan terkecil sampai yang terbesar bahkan untuk kebutuhan yang
sifatnya penting atau tidak. Alasan lain dengan mengirimkan uang
melalui suami uang itu sewaktu-waktu bisa diambil dan digunakan
sesuai kebutuhan.
Berdasarkan penuturan suami ZK, ia mendapat kiriman uang
dari istri setiap satu tahun sekali. Pernah juga uang hasil kerjanya
dibawa pulang sekaligus ketika ia pulang cuti kerja. Ketika uang
tersebut dikirim setiap satu tahun  sekali uang tersebut dialokasikan
untuk memenuhi kebutuhan hidup rumah tangga termasuk untuk biaya
pendidikan anak. Pernah istrinya membawa uang hasil kerja selama
dua tahun sekalian waktu ia pulang. Uang tersebut digunakan untuk
membangun rumah. Walaupun tidak secara langsung rumah itu jadi,
setelah istrinya berangkat ke Arab Saudi berikutnya uang hasil kerja
yang dikirim tiap tahun digunakan untuk melanjutkan pembangunan
rumah sedikit demi sedikit.
66

2.  Keluarga LS
Keluarga LS memiliki suami yang berprofesi sebagai tukang
kayu. Suami LS mendapatkan upah hasil kerja apabila ia dapat
                                                
66
 Ibid., 
  52
menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu. Setiap kali mendapat
pesanan pintu, kusen, atau jendela dibawanya pulang ke rumah. Jika
sudah selesai pemilik atau pemesan akan mengambilnya di rumah LS.
kemudian suami LS akan menerima upah setelah itu. Upah yang
diterima tergantung dari banyak atau sedikitnya pesanan. Jadi suami
LS tidak menerima upah hasil kerjanya setiap hari.
67

LS menekuni profesi sebagai TKW sudah 10 tahun. LS
berangkat sejak anak-anaknya masih kecil. Untuk memenuhi
kebutuhan keluarga ia menyerahkan pengelolaan uang kepada suami,
karena suami dinilai orang yang berhak mengurusnya daripada orang
lain. Uang hasil kerja LS digunakan untuk membiayai kebutuhan
hidup sehari-hari juga pendidikan anak. Sejak keberangkatan LS
pertama sampai yang terakhir anak-anaknya diasuh oleh ibunya. LS
memiliki tiga anak perempuan dan satu orang anak laki-laki yaitu BD.
Karena mendapatkan pengasuhan tidak maksimal dari neneknya juga
bapaknya, maka BD mempunyai perilaku yang tidak baik di
lingkungan masyarakat. Berdasarkan penuturan neneknya dalam
sebuah petikan wawancara menceritakan :
"Si BD itu satu-satunya anak laki-laki yang dimiliki LS. Anak
itu saya yang merawat sejak ditinggal oleh ibunya pergi.
Pernah ada kejadian yang sangat memalukan terjadi pada
keluarga kami. Waktu itu ada tetangga yang bilang sama saya
kalau si BD itu kepergok mencuri di kebun salak pondoh milik
SL. SL langsung maki-maki saya, karena saya di kira tidak
bisa merawat cucu  saking marahnya SL bilang begini sama
                                                
67
 Hasil wawancara dengan Fathur (suami Laseni) pada tanggal 15 September 2007 
  53
saya, ya maklum kalau anak tidak ketuggon sama orang tua ya
seperti itu jadinya".
68


3.  Keluarga RM
Lain dengan keluarga ZK dan LS, suami RM tidak memiliki
pekerjaan sama sekali. Ketika suami tidak memiliki pekerjaan di sisi
lain RM juga tidak memiliki pekerjaan, akibatnya kebutuhan keluarga
tidak dapat terpenuhi. Kondisi yang seperti ini mengakibatkan RM
menekuni profesi sebagai TKW. 
Profesi sebagai TKW ditekuni selama 17 tahun.  Pengunaan
uang hasil kerja digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,
membayar hutang, biaya pendidikan anak. RM dalam mengirimkan
gaji hasil kerjanya tidak dalam waktu yang pasti, tetapi berdasarkan
pada permintaan suami.
69
 
Uang hasil jerih payah kerja RM menjadi TKW tidak ada
bekasnya. Suaminya suka berfoya-foya, sebagian besar gaji yang
dikirim untuk keluarga digunakan sendiri untuk bersenang-senang. 
Awal-awal kepergian RM memang belum mengetahui kebiasaan
suaminya, ia tahu dari anak-anaknya tiap kali lewat telephon. RM
mempunyai tiga orang anak perempuan, yaitu Nisa, Ana dan Salis, di
awal kepergiannya menjadi TKW RM tidak meminta anak-anaknya
untuk tinggal bersama neneknya, ia menginginkan anak-anaknya
dirawat oleh bapaknya, tetapi akhirnya tanpa sepengetahuan RM
                                                
68
 Hasil Wawancara dengan Surini pada tanggal 17 September 2007
69
 Hasil Wawancara dengan Ana (anak Rohmatun) pada tanggal 13 September 2007 
  54
suaminya menyerahkan pengasuhan ketiga anak perempuan kepada
neneknya dan tinggal bersama.
70

4.  Keluarga SM 
SM mantan TKW menuturkan bahwa ia menjadi TKW karena
ingin mempertahankan keluarganya. Ketika suami tidak punya
pekerjaan, padahal tingkat kebutuhan semakin bertambah jadi istri
dengan izin suami bekerja menjadi TKW.
71

SM memiliki suami yang menganggur, SM Selama menjadi
TKW pengelolaan uang kiriman diserahkan sepenuhnya kepada
suami, karena saat itu anaknya masih kecil dan orang tuanya sudah
terlalu renta jadi ia beranggapan tidak mungkin kalau pengelolaan
uang diserahkan kepada ibu atau anaknya.
72

Kasus pada keluarga SM, ketika pengelolaan uang kiriman
diserahkan kepada suami uang tersebut digunakan untuk mencukupi
kebutuhannya sendiri. Bahkan suami SM jika uang kiriman habis ia
berani meminta kepadanya lewat telepon dengan alasan untuk biaya
kuliah anaknya dan yang lebih parah lagi ia berani menjual tanah
warisan dari orang tua SM yang  telah diberikan kepadanya tanpa
sepengetahuannya. SM menceritakan tentang kejadian tersebut :
"Saya saat itu percaya saja sama suamiku, tiap kali minta
kiriman uang saya selalui kirimi, karena dengan alasan untuk
biaya Lutfi (anak SM) kuliah. Saat itu saya mikir dia itu anak
semata wayang, kalau tidak diopeni bener-benar kasihan, toh
besok kalau tua saya juga akan ikut dia. Yang paling
                                                
70
 Ibid.,
71
 Hasil Wawancara dengan Soimatun, pada tanggal 11 September 2007
72
 Ibid., 
  55
mengejutkan ketika saya pulang dan menanyakan smuanya,
ternyata si Lutfi tidak kuliah, mendengar itu saya langsung
marah, sehari sesudah kejadian itu ibu saya bilang kalau tanah
warisan yang menjadi milikku juga telah dijual oleh suamiku,
saat itu saya Cuma bisa nangis mendengar apa yang telah
dilakukan suami terhadap keluargaku" dan akhirnya saya
bercerai dengan suaminta, ia berkata: "ini lho mbak akta
perceraiannya".
73


5.  Keluarga SR
Berbeda dengan TKW yang lain, berdasar penuturan Rofiq
bapak SR, bahwa anaknya pergi menjadi TKW di Hongkong pada
awalnya bukan karena masalah himpitan ekonomi saja, melainkan
karena adanya maslalah keluarga, saat itu ketika SR muda ia menjalin
hubungan dengan kekasihnya sampai akhirnya ia hamil, kemudian
setelah itu ia ditinggal pergi oleh kekasihnya. Setelah anaknya
berumur 7 tahun dititipkan kepada orang tua SR, kemudian ia pergi
menjadi TKW.
74

 SR menjadi TKW karena tidak mau menanggung malu dalam
masyarakat terhadap persoalan yang menimpa keluarga. Hal itu hanya
sebagai alasan kepergian yang pertama kalinya sebagai TKW. Setelah
persoalan berlalu kepergian yang berikutnya karena masalah ekonomi
pula.
SR menyerahkan pengelolaan uang kiriman sepenuhnya
kepada orang tuanya. Uang hasil kerjanya digunakan untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari, biaya pendidikan anak, dan membenahi rumah.
                                                
73
 Ibid.
74
 Hasil Wawancara dengan Rofiq, pada tanggal 11 September 2007 
  56
Penigiriman uang dilakukan oleh SR tidak dilakukan dalam waktu
yang pasti.
75
 
 SR memiliki seorang anak perempuan yang saat ini duduk di
bangku SLTP. Salah satu tujuan SR menjadi TKW adalah untuk
membiayai pendidikan anaknya tersebut.
6.  Keluarga DW
Berbeda dengan keluarga DW memiliki suami yang bekerja
disebuah perusahaan swasta di Kota Klaten sebagai salesman.
Pekerjaan itu sudah ditekuni sebelum menikah dengan DW. Dalam
kehidupan sehari-hari DW jarang sekali bertemu dengan suami. Suami
DW pulang setiap satu minggu sekali bekerja sebagai salesman
dengan gaji Rp. 800.000,00 perbulan. Setiap bulan suami DW harus
membayar kos, selain itu juga masih digunakan untuk makan setiap
hari, belum kebutuhan yang lain. Sementara itu masih harus
mengalokasikan uang untuk istrinya di rumah. Dahulu pernah juga
bekerja dengan di laju, tetapi gajinya habis untuk transportasi. Setelah
beberapa waktu akhirnya suami DW mengambil jalan keluar dengan
tinggal bersama mertuanya di Klaten tetapi setiap satu minggu sekali
pulang ke rumah untuk memberikan nafkah kepada DW. Sebelum
menjadi TKW DW pernah bekerja menjadi pramuniaga.Pekerjaan
tersebut di tinggalkan DW setelah ia melahirkan anaknya. DW
menjadi TKW baru 6 tahun. Pentasyarufan gaji yang dipilih DW
                                                
75
 Ibid., 
  57
adalah dengan men yerahkan sepenuhnya kepada suami. Gaji hasil
kerja DW sebagai TKW digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup
sehari-hari, biaya pendidikan anak dan membangun rumah.
Membangun rumah dan memenuhi pendidikan anak adalah tujuan
utama DW menekuni profesi sebagai TKW.
76

7.  Keluarga MF
MF memiliki suami yang bekerja sebagai seorang petani. Sejak
muda sampai sekarang suami MF bekerja sebagai buruh tani, ia
bekerja menggarap lahan milik orang lain dengan cara maro.
77
 Suami
MF menggarap sawah milik orang lain dari awal penanaman sampai
menuai hasil panen. Setelah dijual hasil panen tersebut setengah
menjadi milik suami MF dan yang sebagian lagi menjadi hak pemilik
tanah.
MF dalam melakukan pengiriman uang dilakukan berdasar
waktu yang pasti. Yaitu setiap satu tahun sekali, tetapi MF pernah
membawa pulang uang hasil kerja sekalian waktu ia pulang. MF
mengalokasikan uang hasil kerjanya untuk memenuhi kebutuhan
sehari- hari, biaya pendidikan anak, dan membeli sebuah rumah.
78

Sama seperti DW Berdasar penuturan MF menyebutkan bahwa
sebelum menjadi TKW MF pernah bekerja menjadi buruh pabrik di
beberapa perusahaan daerah Ungaran. Namun setelah ia hamil dan
melahirkan anak pekerjaan tersebut di tinggalkannya.
                                                
76
 Hasil wawancara dengan Tashom (suami Dewi) pada tanggal 9 September 2007
77
 Hasil wawancara dengan Mualifatun pada tanggal 9 September 2007
78
 Ibid.,   
  58
Keluarga MF Sejak awal kepergiannya menjadi TKW, ia
menyerahkan pengelolaan uang kiriman melalui orang pilihan yang
memang ia percayai, walaupun secara garis keturunan orang itu bukan
anggota keluarga dari pihak suami atu istri, hanya saja orang yang
diberi kekuasaan penuh untuk mengelola uang hasil kerjanya karena
memang sudah kenal baik dengan orang tersebut. MF setiap satu tahun
sekali ia selalu mengirimkan uang kepada MN, pemenuhan kebutuhan
keluarga MF sepenuhnya ada ditangan MN. Setiap satu bulan sekali
MN mengirimkan uang untuk biaya sekolah serta kebutuhan anak dan
suaminya. Pengelolaan uang yang dilakukan MF demgan cara
menyerahkan pada orang yang benar-benar ia percayai menyebabkan
adanya persoalan baru dalam keluarga. Orang yang diberi kepercayaan
tidak menyerahkan uang hasil kerja MF kepada keluarga sepenuhnya.
Hal ini membuat suami MF marah, karena ketika suami masih ada dan
mampu mengurusnya mengapa urusan pengelolaan uang diserahkan
kepada orang lain.
79

8.  Keluarga TM
Sebagai seorang penjual roti keliling suami TM memiliki
penghasilan yang relatif sedikit. Sebab sebelumnya ia pernah memiliki
usaha home industri, yaitu membuat roti kemudian anak buahnya yang
memasarkan, tetapi tidak lama kemudian usahanya itu bangkrut
karena antara barang yang diproduksi dan yang laku dipasaran tidak
                                                
79
 Hasil Wawancara dengan Mualifatun pada tanggal 9 September 2007 
  59
seimbang. TM menjadi TKW sudah 15 tahun. Selama menjadi TKW
ia menyerahkan pengelolaan uang kepada suami. Berdasar Penuturan
suami TM menyebutkan bahwa suami adalah orang terdekat
dibandingkan dengan anggota keluarga yang lain. Suami TM
menggunakan uang hasil kerja TM dengan sebagaimana mestinya.
Uang kiriman dari istri digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-
hari, memenuhi pendidikan anak, dan membangun rumah. Selama di
tinggal istrinya menjadi TKW rumah tangganya tetap terjaga
keharnonisannya.
80

9.  Keluarga MR
Suami MR adalah seorang pengangguran. Berdasarkan hasil
wawancara dengan anaknya menyebutkan, ayahnya dari dulu memang
tidak memiliki pekerjaan. Hal ini adalah yang menjadi faktor mengapa
MR menjadi TKW. Sejak awal kepergiannya menjadi TKW ia
menyerahkan urusan pengelolaan uang melalui orang yang ia
percayai, dengan cara ini ia yakin bahwa hasil kerja kerasnya akan
dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan keluarganya. Tiap kali
mendapat kiriman uang, orang yang dipercayai itu akan
menyampaikan kepada keluarga, bahwa istri telah mentrasfer uang
beserta menyebutkan jumlah nominalnya. Sedang untuk memenuhi
kebutuhan hidup sehari-hari suami akan menemuinya tiap satu bulan
sekali untuk mengambil uang gaji yang telah dikirim istri. Selain itu
                                                
80
 Hasil wawancara dengan Tikman (suami Tammimah) pada tanggal 10 September 2007 
  60
suami biasanya datang untuk meminta uang tiap kali ada kebutuhan
yang mendesak.
81

 Pengelolaan uang MR melalui orang yang diberi kepercayaan
untuk mengelola uang menggunakannya untuk keperluan rumah
tangganya sendiri, pengelola menggunakan uang hasil kerja MR untuk
membangun rumah.
82

Adanya fenomena tersebut menyebabkan hubungan dengan
suami kurang harmonis, menurut penuturan suami sesaat pernah
marah ketika menyikapi persoalan yang menimpa keluarga mereka.
Karena suami merasa tidak dipercayai lagi. Kenapa ketika suami saja
masih ada urusan mengenai pengelolaan uang kiriman diserahkan
kepada orang lain.
83

10. Keluarga MS
Tikanah anak MS menuturkan bahwa keinginan ibunya
menjadi TKW karena memang tidak ada orang lain yang mencukupi
kebutuhan keluarga selain dia. Tikanah menuturkan:
"Mau bagaimana lagi to mbak? Waktu itu saya dan adik saya
yang namanya Ria masih kecil sudah ditinggal bapak.
Akhirnya satu tahun setelah meninggalnya bapak, ibu menjadi
TKW sampai sekarang. Sejak itulah kebutuhan rumah tangga
dipenuhi oleh ibu".

MS menyerahkan pengelolaan uang kepada anak pertamanya. MS
mengirimkan uang setiap satu tahun sekali. Dahulu pernah MS membawa
                                                
81
 Hasil Wawancara dengan Surati dan Nur madjid (anak Musri'ah) pada tanggal 11
September 2007
82
 ibid
83
 ibid 
  61
uang hasil kerjanya sekalian waktu ia pulang, selain itu terkadang uang itu
dikirimkan oleh MS tiap kali anak memintanya. MS menekuni profesi
sebagai TKW sejak anak-anaknya masih kecil sampai sekarang. Selama
menjadi TKW Hasil kerjanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari untuk kedua anaknya, membiayai pendidikan anak, dan
membangun rumah untuk kedua anaknya.
84

Profesi sebagai TKW dipilih karena pekerjaan ini sangat mudah
untuk di jalankan dan hasilnya cukup banyak dari pada pekerjaan yang
lain, seperti bekerja di pabrik, pedagang, dan lain sebagainya. Jika bekerja
menjadi buruh pabrik atau pedagang paling hasilnya hanya cukup untuk
makan setiap hari. Apalagi suami tidak memiliki pekerjaan tetap.
Kesepuluhn responden menyebutkan bahwa gaji menjadi TKW adalah
antara Rp 1.500.000,00 sampai 2.000.000,00 setiap bulan Oleh karena itu
pekerjaan menjadi TKW jadi pilihan terbaik.














                                                
84
 Hasil Wawancara dengan Tikanah, pada tanggal 12 September 2007 
  62
BAB IV
ANALISIS TERHADAP KEHIDUPAN KELUARGA TKW SEBAGAI
PENCARI NAFKAH UTAMA DI DESA KECANDRAN KECAMATAN
SIDOMUKTI SALATIGA 

Hubungan suami istri adalah hubungan yang sangat luhur dan agung.
Sebagai pasangan suami istri, keduanya harus mampu bekerjasama demi
mewujudkan nilai-nilai keadilan dalam keluarga. Karena Islam adalah agama
yang senantiasa menghendaki keseimbangan dalam setiap urusannya, maka segala
sesuatu yang terangkum dalam hukum Islam harus mampu mewujudkan
kemaslahatan bagi umatnya.
Harapan untuk mewujudkan kemaslahatan hidup berkeluarga merupakan
sebuah hal yang mulia. Jadi sudah sepantasnya bila setiap orang membuang jauh-
jauh  hegemoni yang dapat menyudutkan perempuan, khususnya para istri yang
bekerja di luar rumah. Sebab secara tidak langsung, perempuan memiliki hak dan
kewajiban yang sama dalam semua bidang kehidupan, termasuk didalamnya
aktifitas untuk bekerja mencari nafkah. Dalam hal ini agamapun tidak pernah
membatasi hak-hak perempuan kecuali untuk hal yang berkaitan dengan
kodratnya.
Pada prinsipnya memang benar bahwa Islam tidak memberi batasan-
batasan terhadap perempuan untuk melakukan aktifitas dalam bekerja. Tetapi
disisi lain Islam juga tidak melarang perempuan untuk tinggal diam di rumah
untuk mengurus rumah tangganya. Karena dalam hal ini ajaran Islam sudah sangat
tegas menjelaskan bahwa suami yang berkewajiban memberi nafkah untuk istri 
  63
dan anak-anaknya. Tanggungan kewajiban rumah tangga ini sesuai dengan
perintah agama Islam.
Sedangkan mengenai ukuran banyaknya  belanja itu sudah tentu menurut
kecukupan yang selaras dengan keadaan dan kebiasaan yang lazim pada suatu
waktu dan tempat. Pada intinya memang tidak disebutkan secara jelas berapa
jumlahnya yang ditetapkan, akan tetapi garis besarnya ditegaskam dalam surat At-
Thalaq ayat 7 yakni: 
"Bahwa seseorang yang mempunyai kelapangan hendaklah memberi
nafkah menurut kelapangannya dan seseorang yang dalam kesempitan
rezekinya haruslah memberi nafkah menurut keadaanya atau
kesanggupannya pula".
85


Setiap orang baik laki-laki maupun perempuan tentu ingin berada dalam
kehidupan yang terhormat, berkecukupan dengan harta yang dimilikinya. Oleh
karena itu seiring dengan berkembangnya zaman tidak hanya laki-laki saja yang
memiliki hak untuk bekerja. Demikian  pula perempuan jika seorang perempuan
bekerja dan memperoleh harta, maka dia akan mendapatkan manfaat bagi
kehidupannya. Ia bisa memperoleh kesejahteraan bagi diri dan keluarganya,
mendapatkan kemandirian juga kehormatan. Ketika perempuan tidak tergantung
pada orang lain, tidak meminta-minta dan tidak menjadi beban, sesungguhnya ia
telah menikmati kehormatan yang tidak terbanding, lebih dari itu jika seorang
perempuan telah memiliki kecukupan ekonomi ia akan memiliki kebebasan untuk
mengelola keuangannya, menentukan keputusan-keputusan yang terbaik untuk
kehidupan dan masa depannya.
                                                
85
 Departemen Agama RI, Al-Qur'an dan Terjemahnya, hlm. 95 
  64
A.  Analisa Faktor Penyebab Istri sebagai Pencari Nafkah Utama Keluarga
TKW di Desa Kecandran, Kecamatan Sidomukti Salatiga
1.  Faktor dari Suami
TABEL XIV
FAKTOR PENYEBAB MUNCULNYA PERSOALAN EKONOMI
No  Faktor Penyebab  Jumlah 
a.   Suami tidak memiliki pekerjaan tetap sehingga
untuk memenuhi kebutuhan masih mengalami
kekurangan 
5 responden 
b.   Suami tidak mempunyai pekerjaan sehingga
tidak dapat memenuhi kebutuhan keluarga 
3  responden 
c.   Suami meninggal dunia  1 responden 
d.   Tidak memiliki suami  1 responden 
Sumber : Hasil wawancara terhadap 10 responden
Tabel tersebut merupakan ringkasan dari penelitian awal yang sifatnya
masih global, agar lebih jelasnya penulis akan menganalisis dari setiap poin
jawaban responden. Tapi penulis dalam menganalisis faktor yang melatar
belakangi istri sebagai TKW sekaligus pencari nafkah utama keluarga.
Dari hasil wawancara terhadap 10 responden, maka dapat dilihat
bahwa faktor ekonomi adalah persoalan utama dari kepergian istri menjadi
TKW untuk memenuhi kebutuhan nafkah keluarga. Yang menjadi persoalan
adalah dengan latar belakang apakah persoalan himpitan ekonomi itu muncul.
Adapun faktor-faktornya yaitu : 
  65
a.  Suami tidak memiliki pekerjaan tetap
Kewajiban memenuhi nafkah keluarga dibebankan pada suami
antara lain diisyaratkan dalam Q.S. An Nisa' (4): 34, Q.S. Al Baqarah (2):
233, dan At-Tahaq (65): 6-7.
Quraish Shihab menjelaskan bahwa penggunaan kata kerja lampau
pada Q.S. An-Nisa (4): 34 "anfaqu" (telah menafkahkan) menunjukkan
bahwa memberi nafkah kepada perempuan telah menjadi suatu kelaziman
bagi laki-laki dan merupakan kenyataan umum dalam berbagai masyarakat
sejak dahulu hingga kini.
86

Berdasarkan data dari hasil wawancara 10 responden, dapat dilihat
bahwa faktor suami tidak memiliki pekerjaan merupakan frekuensi yang
terbesar yaitu 5 jawaban. Dan kelima responden masing-masing suami
bekerja sebagai buruh bangunan, buruh srabutan, tukang kayu, petani,
sales, dan penjual roti keliling.
Dilihat dari data pekerjaan suami, dapat dilihat bahwa pekerjaan
suami tidak tetap, sebagian dari mereka yang bekerja sebagai buruh
bangunan, petani, tukang kayu bekerja ketika mendapat tawaran pekerjaan
itu, jika tidak maka mereka menganggur.
Karena tingginya tingkat kebutuhan, serta biaya pendidikan yang
cukup mahal, maka menghadapi persoalan tersebut, istri tidak hanya
tinggal diam, ia memperlihatkan eksistensi dirinya sebagai seorang istri.
                                                 
86
 Quraish Shihab,  Tafsir Al Misbah: Pesan dan Keserasian Jilid III, Lentera Hati,
Jakarta, 2000, hlm. 376. 
  66
Dengan berbekal fisik yang sehat istri bekerja sebagai TKW untuk
memenuhi kebutuhan keluarganya.
b.  Suami tidak mempunyai pekerjaan sama sekali
Dalam kenyataan hidup di masyarakat, ketidakmampuan seorang
suami untuk memenuhi kewajiban nafkah, umumnya memaksa sang istri
ikut serta melakukan tugas secara ekonomi. Hal ini terjadi di Desa
Kecandran. Data yang penulis dapat  dari hasil penelitian menyebutkan
bahwa istri menjadi TKW dikarenakan sang suami tidak memiliki
pekerjaan sama sekali. Dari sini terlihat jelas bahwa istri bekerja sebagai
penanggung jawab ekonomi keluarga. Menurut Quraish Shihab, hal ini
adalah sebuah pemakluman yang harus diterima sebab dalam kondisi
darurat, perempuan sangat dianjurkan untuk membantu mencari nafkah.
87

c.  Suami meninggal dunia
Tidak seorangpun yang memungkiri bahwa tugas perempuan yang
pertama adalah mendidik anak-anaknya, sehingga tugas ini tidak boleh
terabaikan, oleh apapun. Tidak seorangpun yang mampu menduduki peran
perempuan dalam menangani tugas tersebut.
Menurut pandangan syara' hal tersebut tidak berarti perempuan
dilarang bekerja di luar rumah, tidak boleh seseorang melarang perempuan
bekerja di luar rumah tanpa didasarkan nash syar'i yang valid menurut
                                                
87
 Ibid., hlm. 408. 
  67
kaidah yang baku pada prinsipnya segala sesuatu (yang bersifat duniawi)
dan tindakan sehari-hari adalah menunjukkan hukum mubah (boleh).
88
 
Atas dasar kaidah tersebut, dapat disimpulkan bahwa pada
prinsipnya perempuan bekerja itu hukumnya boleh. Terkadang pekerjaan
itu hukumnya wajib apabila pekerjaan itu sangat dibutuhkannya.
89
 Seperti
halnya yang terjadi pada keluarga MS salah satu responden penelitian ini.
MS adalah seorang janda yang ditinggal mati suaminya. MS tidak
mempunyai sumber penghasilan dan tidak ada orang yang menanggung
hidup diri dan keluarganya. Sedangkan dirinya mampu untuk mengerjakan
suatu perkerjaan yang dapat menyelamatkan dirinya serta keluarganya.
d.  Tidak memiliki suami
Mengenai faktor yang keempat ini pembahasannya sama dengan
seorang istri yang menjadi TKW karena ditinggal mati oleh sang suami.
Status perempuan ini sama seperti seorang yang diceraikan oleh suaminya,
sehingga keadaan memang menuntutnya untuk bekerja, karena memang
tidak ada orang lain yang akan mencukupi kebutuhan keluarganya.
2.  Faktor dari istri
Keterangan tersebut di atas adalah beberapa faktor penyebab
persoalan dari pihak suami. Selain dari faktor tersebut ada pula faktor yang
berasal dari istri yaitu ketika suami menghadapi persoalan seperti tidak
memiliki pekerjaan, tidak memiliki pekerjaan sama sekali, tidak memiliki
suami, bahkan ketika di tinggal suami meninggal dunia pihak istri dari
                                                
88
 Yusuf Al Qardhawi,  Perempuan dalam Perspektif Hukum Islam, terj. Maraakidzul
Mar-ati Fil Hayyatil Islamiah, Pustaka Fahima, Yogyakarta, 2006, hlm. 196.
89
 Ibid,. hlm. 196. 
  68
kesepuluh responden dalam peelitian ini tidak memiliki pekerjaan sama
sekali. Kalaupun dua diantaranya yaitu DW dan MF pernah memiliki
sebuah pekerjaan tetapi setelah hamil kemudian anaknya lahir mereka
meninggalkan pekerjaannya.
Dengan mengetahui jawaban responden dalam penelitian tersebut
di atas, kedua faktor yang muncul dari kedua belah pihak suami dan istri
adalah faktor yang melatar belakangi munculnya persoalan ekonomi dalam
keluarga. Dengan demikian profesi sebagai TKW dipilih sebagai jalan
keluar. Pekerjaan ini menurut mereka dipadang sebagai sebuah pekerjaan
yang mudah untuk di raih dan hasilnya cukup banyak dari pada pekerjaan
yang lain seperti buruh pabrik, pedagang dan lain sebagainya.

B.  Analisa Mengenai Upaya Pemenuhan Kebutuhan Nafkah Keluarga TKW
TABEL XV
PENGELOLAAN UANG KIRIMAN TERHADAP KELUARGA
No Nama Responden  Pengelola
1 ZK Suami 
2 LS Suami 
3 RM Suami 
4 SM Suami 
5  SR  Orang tua (ibu)
6 DW Suami 
7 MF Orang yang dipercayai
8 TM Suami 
9 MR Orang yang dipercayai
10 MS Anak 
Sumber : Hasil wawancara terhadap 10 responden 
  69
Dari tabel di atas dapat dilihat secara jelas tentang upaya
pemenuhan kebutuhan nafkah keluarga TKW. Sebagian besar dari
responden menunjukkan bahwa upaya pemenuhan kebutuhan tersebut
diserahkan sepenuhnya kepada suami. Dari ke 6 responden yang memilih
suami sebagai pengelola uang kiriman mempunyai akibat yang beragam.
SM misalnya dengan menyerahkan pengelolaan uang kiriman kepada
suami, membuat keharmonisan rumah  tangga hilang. Ia bercerai dengan
suami dan biaya  pendidikan untuk anak tidak tersalurkan sepenuhnya.
Berbeda dengan keluarga ZK, LS, DW, dan TM, ketika
pengelolaan uang kiriman diserahkan kepada suami keharmonisan rumah
tangga tetap terbangun, dan uang tersebut digunakan sebagaimana
mestinya. Jadi ketika sang istri pulang tidak mengecewakan.
Ketika pengelolaan uang kiriman melalui orang yang diberi
kepercayaan hal ini juga memunculkan persoalan. Sebagaimana yang
terjadi di keluarga MF dan MR. Memang uang hasil kerja selama menjadi
TKW sampai ketangan keluarga untuk memenuhi kebutuhan, tetapi
sebagian dari uang tersebut dimanfaatkan oleh pengelola, uang tersebut
digunakan untuk menutup kebutuhan-kebutuhan pribadi pengelola.
Dengan menyerahkan pengelolaan uang kepada orang lain hal ini
menyebabkan suami merasa tidak dipercaya oleh istri, sehingga akibatnya
keharmonisan rumah tangga berkurang. 
  70
TABEL XVI
TABEL PENGGUNAKAN UANG KIRIMAN
No Nama Responden  Tasaruf Gaji 
1  ZK 
-   Memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari 
-   Pendidikan anak 
-   Membangun rumah 
2  LS 
-   Memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari 
-   Pendidikan anak 
3  RM 
-   Memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari 
-   Pendidikan anak 
-   Membayar hutang 
4  SM 
-   Memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari 
-   Pendidikan anak 
5  SR 
-   Memenuhi kebutuhan sehari-hari 
-   Membenahi rumah 
-   Pendidikan anak 
6  DW 
-   Memenuhi kebutuhan sehari-hari 
-   Membangun rumah 
-   Pendidikan anak 
7  MF 
-   Memenuhi kebutuhan sehari-hari 
-   Membeli rumah 
-   Pendidikan anak 
8  TM 
-   Memenuhi kebutuhan sehari-hari 
-   Membangun rumah 
-   Pendidikan anak 
9  MR 
-   Memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari 
-   Pendidikan anak 
10  MS 
-   Memenuhi kebutuhan sehari-hari 
-   Membangun rumah untuk kedua
anaknya 
-   Pendidikan anak 
Sumber : Hasil Wawancara terhadap 10 responden 
  71
Dari tabel tersebut di atas dapat dilihat tentang tasyaruf gaji istri
sebagai TKW untuk keluarganya kesepuluh responden meyebutkan bahwa
uang hasil kerja menjadi TKW digunakan untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari, membiayai pendidikan anak, membangun rumah, membenahi
rumah, ada pula yang digunakan untuk membayar hutang.
Berdasarkan hasil wawancara dengan responden dapat dilihat
bahwa istri memiliki peran penting dalam keluarga. Dengan menekuni
profesi sebagai TKW kebutuhan hidup sehari-hari, pendidikan anak, serta
tempat tinggal dapat terpenuhi.

C.  Analisa Dampak Istri Menjadi TKW Bagi Keharmonisan Rumah Tangga
Islam memang tidak melarang perempuan untuk bekerja, bahkan
dalam agama Islam membenarkannya dengan menganjurkan perempuan untuk
bekerja jika dalam keadaan darurat. Ketika keadaan darurat perempuan sangat
membutuhkan pekerjaan untuk membiayai kebutuhan hidup keluarganya.
Dari keterangan di atas sangat tepat bila sebuah keluarga, tidak ada
yang menanggung kebutuhan hidup, maka perempuan (istri) bekerja untuk
mencukupinya. Maka ketika suami tidak mampu memenuhi kebutuhan nafkah
keluarga, berarti istri mempunyai peranan penting dalam hal urusan ekonomi
keluarga.
Dari sepuluh responden yang bekerja menjadi TKW, sangat jelas
bahwa peranan perempuan dalam rumah tangga sangatlah penting. Dengan
bekerja menjadi TKW kebutuhan rumah tangga dapat terpenuhi. Padahal
dapat diketahui dengan melihat pekerjaan tersebut, keadaan tidak 
  72
memungkinkan istri untuk dapat melaksanakan kewajibannya sebagai seorang
istri sekaligus ibu bagi anak-anaknya, walaupun sifatnya hanya sementara
waktu.
Berawal dari hal tersebut di atas, maka akan memunculkan dampak
bagi keluarganya. Dampak yang muncul juga beraneka ragam. Dalam hasil
penelitian penulis menyebutkan kebanyakan dari mereka yang bekerja
menjadi TKW mempunyai dampak positif serta dampak negatif.
TABEL XVII
DAMPAK POSITIF DAN NEGATIF PROFESI ISTRI SEBAGAI TKW
No  Responden Dampak Positif  Dampak Negatif 
1 
ZK 
-   Terpenuhinya kebutuhan hidup
sehari-hari 
-   Terpenuhinya Pendidikan anak 
-   Terpenuhinya tempat tinggal  

2 
LS 
-   Terpenuhinya kebutuhan hidup
sehari-hari 
-   Terpenuhinya Pendidikan anak 
-   Anak memiliki
perilaku yang tidak
baik 
3 
RM 
-   Terpenuhinya kebutuhan hidup
sehari-hari 
-   Terpenuhinya Pendidikan anak 
-   Terselesaikannya utang piutang 
-   Suami suka
berfoya-foya 
4 
SM 
-   Terpenuhinya kebutuhan hidup
sehari-hari 
-   Terpenuhinya pendidikan anak
walaupun tidak maksimal 
-   Suami tidak
memperhatika
pendidikan anak
sepenuhnya 
-   Suami berfoya-
foya
(menghabiskan
harta istri) dan 
  73
No  Responden Dampak Positif  Dampak Negatif 
melakukan
perselingkuhan 
5 
SR 
-   Terpenuhinya kebutuhan sehari-hari 
-   Terpenuhinya tempat tinggal 
-   Terpenuhinya Pendidikan anak 

6 
DW 
-   Terpenuhinya kebutuhan sehari-hari 
-   Terpenuhinya tempat tinggal 
-   Terpenuhinya Pendidikan anak 

7 
MF 
-   Terpenuhinya kebutuhan sehari-hari 
-   Terpenuhinya tempat tinggal 
-   Terpenuhinya Pendidikan anak 
-   Pengelolaan uang
sebagian tidak
tersalurkan
sehingga
mengurangi
keharmonisan RT 
8 
TM 
-   Terpenuhinya kebutuhan sehari-hari 
-   Terpenuhinya tempat tinggal 
-   Terpenuhinya Pendidikan anak 

9 
MR 
-   Terpenuhinya kebutuhan hidup
sehari-hari 
-   Terpenuhinya Pendidikan anak 
-   Pengelolaan uang
sebagian tidak
tersalurkan
sehingga
mengurangi
keharmonisan
rumah tangga 
10 
MS 
-   Terpenuhinya kebutuhan sehari-hari 
-   Terpenuhinya tempat tinggal 
-   Terpenuhinya Pendidikan anak 


Dampak tabel tersebut di atas dapat dilihat bahwa dengan profesi istri
sebagai TKW maka muncul dampak positif serta dampak negatif bagi 
  74
keluarga. Adapun prosentase dampak positif dan dampak negatifnya yaitu
sebagai berikut :
1.  Dampak positif
a.  Terpenuhinya kebutuhan sehari-hari 100%
b.  Terpenuhinya pendidikan anak 100%
c.  Terpenuhinya tempat tinggal 60 %
d.  Terselesaikan urusan hutang piutang 10 %
2.  Dampak negatif
a.  Perilaku anak yang menyimpang 10 %
b.  Suami suka berfoya-foya 20%
c.  Pengelolaan uang terhadap orang yang tidak tepat sehingga sebagian
tidak tersalurkan akibatnya mengurangi keharmonisan RT 20%
Dari tabel tersebut tidak mencantumkan keberapa dampak negatif yang
muncul terhadap diri istri (TKW) selama menekuni profesi sebagai TKW.
Karena dari data hasil wawancara dengan responden tidak ada yang
menyebutkan bahwa pernah terjadi kekerasan baik seksual, fisik, atau psikis
dari majikan, selama dalam hubungan kerja.
TABEL XVIII
TINGKAT PENDIDIKAN ANAK
No   Nama orang tua  Nama anak  Tingkat pendidikan 
1  
ZK 
1 .   Nur Maehenis 
2 .   Suprih  
MAN 
SMU 
2 
LS 
1 .   Kholip 
2 .   Siti Aisyah 
SMU 
SMU  
  75
No   Nama orang tua  Nama anak  Tingkat pendidikan 
3 .   Arfi 
4 .   Budi 
SMU 
SLTP 
3 
RM 
1 .   Ika Rusiana 
2 .   Nisa Apriani 
3 .   Salis hidayati 
MAN 
MAN 
SMU 
4  SM  1. Luthfi  STM 
5  SR  1. Prahitta   SLTP 
6  DW  1. Adi  SD 
7 
MF 
1 .   Miski 
2 .   Eko 
DIII AKPER 
Perguruan Tinggi 
8 
TM 
1 .   Anis 
2 .   Alif 
SMU 
SD 
9  MR  1. Nur  SMU 
10 
MS 
1 .   Tikanah 
2 .   Ria 
DIII PAPMI 
SMU 

Dengan bekerja menjadi TKW, istri dapat menambah penghasilan
keluarga, sehingga dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarga baik
sandang, pangan, papan, maupun pendidikan bagi anak-anak. Tidak semua
anak dari keluarga TKW yang ditinggal ibunya mempunyai perilaku yang
tidak baik di lingkungan masyarakat. Sebagian dari mereka menitipkan
anak-anakmya kepada kerabat dekat,  jadi ketika orang tua tidak dapat
memantau anak-anaknya, maka ada kerabat yang mengawasi terus
perilaku dan perkembangan anak. 
  76
Dampak negatif ketika istri menjadi TKW di desa Kecandran banyak
yang muncul karena adanya persoalan mengenai pengelolaan uang kiriman
untuk memenuhi kebutuhan kelurga, ketika pengelolaan uang diserahkan
kepada suami, orang tua, anak juga orang yang diberi kepercayaan untuk
mengelola uang hasil kerja mempunyai akibat yang berbeda, bahkan berakibat
fatal bagi kelangsungan hidup berumah tangga.

D.  Profesi Istri sebagai TKW dan Pencari Nafkah Utama dalam Pandangan
Hukum Islam
Dalam pembahasan kaedah-kaedah relasi kemanusiaan. Sudah
dijelaskan bagaimana Islam memberikan  apresiasi tinggi terhadap aktifitas
kerja dan orang-orang yang bekerja. Apresiasi dan anjurkan bekerja itu tidak
hanya ditujukan kepada laki-laki tetapi juga kepada perempuan karena itu,
pelarangan bekerja terhadap siapapun  adalah suatu pelanggaran terhadap
prinsip dasar ajaran Islam.
90

Fakta yang terjadi di Desa Kecandran Kecamatan Sidomukti Salatiga
menunjukkan bahwa kodrat perempuan sebagai seorang istri dan ibu rumah
tangga mengalami perubahan, sebelumnya kebanyakan mereka hanya berada
di rumah untuk mengurusi urusan keluarganya. Aktifitasnya sehari-hari hanya
melaksanakan pekerjaan domestik saja. Namun saat ini seiring
berkembangnya zaman situasi dan kondisi yang berbeda banyak dari mereka
bekerja untuk memenuhi kebutuhan nafkah keluarga ketika kehidupan rumah
tangganya mengalami persoalan dalam hal ekonomi. Minimnya keahlian yang
                                                
90
 Faqihuddin Abdul Kodir, op.cit., hlm. 208. 
  77
di miliki sebagian besar dari mereka akhirnya memilih pekerjaan sebagai
TKW di negeri Jiran.
Menurut mereka menjadi TKW merupakan satu pilihan yang tepat.
Padahal dibalik dari pilihan itu terdapat berbagai macam resiko yang harus
dihadapi. Profesi sebagai TKW mengakibatkan istri jauh dari bagian anggota
keluarga yaitu suami dan anak-anak. Keadaan ini membuat istri tidak dapat
menjalankan kewajibannya walaupun untuk sementara waktu. Padahal
kebahagiaan dalam keluarga itu dapat tumbuh jika istri dapat melaksanakan
kewajiban terhadap suami dan anak-anaknya. Kewajiban ini sangat suci dan
mulia karena dengan memberikan perhatian penuh kepada anak-anaknya dan
mendidik dengan baik akan memunculkan generasi penerus yang baik pula.
91

Resiko lain yang akan dihadapi adalah berkaitan dengan keamanan
terhadap diri perempuan itu sendiri. Banyak dijumpai, didengar, juga dilihat
dalam surat kabar, siaran televisi mengenai penganiayaan, pelecehan seksual,
pembunuhan, sampai kasus  traficking. Korban dari kejadian itu tidaklah
sedikit, oleh karena itu sudah pasti pekerjaan ini sangat beresiko bagi
perempuan-perempuan Indonesia yang bekerja di luar negeri.
Dengan munculnya berbagai kasus seperti tersebut di atas, Fatwa MUI
menyebutkan perempuan yang meninggalkan keluarga untuk bekerja keluar
kota atau keluar negeri, pada prinsipnya boleh sepanjang disertai mahrom
keluarga atau lembaga atau kelompok perempuan yang terpercaya. Jika tidak
disertai mahrom (keluarga) hukumnya haram kecuali tidak dalam keadaan
                                                
91
 Ukasyah Athibi, Wanita Mengapa Merosot Akhlaknya, Gema Insani, Jakarta, 1998,
hlm 27- 28 
  78
darurat yang benar-benar bisa dipertanggung jawabkan secara syar'i serta
dapat menjamin keamanan dan kehormatan tenaga kerja wanita. Kewajiban
tentang penjaminan keamanan ini diwajibkan kepada pemerintah, lembaga
dan pihak lain dalam pengiriman TKW untuk melindunginya.
92

Berbicara mengenai mahrom dalam fiqh memang disebutkan bahwa
perempuan yang akan bepergian selama tiga hari harus ditemani kerabat atau
makhromnya, bahkan ada pandangan yang mengatakan, bepergian satu
haripun harus ditemani mahromnya adapula yang berpendapat bukan batasan
hari yang menentukan perlu tidaknya mahrom, melainkan jarak tempunya.
Dalam fiqh madzhab Syafi'i dan pembahasan mengenai pengganti mahrom
bagi perempuan yang akan pergi haji, misalnya perempuan bisa berpergian
dalam rombongan perempuan, sekalipun tidak ditemani keluarga laki-laki
sebagai mahromnya, bahkan bisa juga perempuan berhaji sendirian, jika jalan
yang di lalui benar-benar aman.
93

Pada intinya persoalan mengenai mahrom adalah untuk memberikan
jaminan keamanan dan perlindungan diri bagi perempuan bukan larangan bagi
perempuan untuk bepergian. Oleh karena itu, pada kondisi masyarakat
sekarang ini dimana jaminan rasa aman relatif terpenuhi, maka konsep
mahrom pun harus ditafsirkan ulang. Jika mahrom merupakan sebagai sarana
pemberian keamanan sebagaimana dirumuskan pada awalnya telah terpenuhi
oleh sarana yang lebih efektif pada era yang serba maju seperti sekarang ini,
                                                 
92
 Himpunan Fatwa Majelis Ulama Indonesia,  Bagian Proyek sarana dan Prasyarana
Produk Halal, Direktur Jendral Bimbingan Masyarakat Islam dan Penyelenggaraan Haji
Depertemen Agama RI, 2003. hlm 281
93
 Faqihudin Abdul Kodir, dkk, op.cit., hlm. 219. 
  79
maka kehadiran mahrom dalam bentuk fisik bukan bagi keharusan. Pelayanan
keamanan oleh negara, baik berupa hadirnya aparat dan undang-undang
ataupun kultur masyarakat yang ramah terhadap perempuan dengan sendirinya
akan menjadi mahrom perempuan kemanapun dan kapanpun mereka akan
pergi. Pengamanan dan perlindungan sosial adalah kewajiban negara melalui
sistem politik dan hukumnya untuk memberikan jaminan keamanan dan
perlindungan bagi setiap warganya, baik laki-laki maupun perempuan. Negara
dituntut untuk mewujudkan pengamanan sosial agar masyarakat secara
individual maupun kolektif dapat menjalankan aktifitasnya sehari-hari dengan
aman dan tenang, negara tidak berhak melarang warganya untuk melakukan
aktifitas warga apalagi mengangkat kepentingn yang paling mendasar baik
ekonomi, sosial, politik, pendidikan.
94

Seseorang boleh menjadi TKW dengan ketentuan ia dapat menghindari
dari bahaya yang bisa diakibatkan dari kondisi pekerjaan-pekerja domestik
yang ditawarkan. Dalam surat Al Baqarah (2) ayat 195 disebutkan bahwa
Islam menganjurkan dengan tegas agar setiap orang menjaga diri dan tidak
menceburkan pada suatu hal yamg bisa membahayakan dirinya, termasuk
untuk dirinya sendiri.
Kondisi ekonomi melilit seseorang sering kali mengurangi rasa
kekhawatiran yang seharusnya ada pada diri masing-masing orang.
Sebaliknya justru akan menyisihkan segala kekhawatiran dan perasaan pada
resiko yang akan mengancam dirinya sekalipun. Mereka adalah orang-orang
                                                
94
 Ibid., hlm. 225 
  80
lemah, yang tidak memiliki kuasa di hadapan tawaran-tawaran yang palimg
membahayakan sekalipun. Ini adalah tugas orang-orang yang kuat dan
memiliki kuasa dalam masyarakat. Yaitu, negara yang seharusnya
memberikan jaminan perlindungan terhadap mereka orang-orang yang lemah. 
Saat ini pemerintah Indonesia belum memiliki kebijakan terkait
dengan penguatan dan perlindungan pekerja domestik, atau Pekerja Rumah
Tangga (PRT). Mereka masih dianggap sebagai pembantu, bukan
pekerja.sehingga, ia tidak memiliki hak-hak sebagai pekerja. Pemerintah
belum mengeluarkan kebijakan yang  jelas dan tegas dengan menempatkan
mereka sebagai pekerja, sama seperti  pekerja-pekerja di sektor publik. Para
pekerja domestik sampai saat ini belum memiliki hak upah minimum, hak
untuk istirahat, cuti atau lembur. Mereka dipekerjakan sesuai keinginan dan
kebaikan majikan. Kondisi seperti ini menempatkan para pekerja domestik
berada pada posisi rentah terhadap  segala bentuk kekerasan, dan tanpa
perlindungan hukum yang jelas dari pemerintah.
95

Berdasarkan hasil penelitian terhadap keluarga TKW di Desa
Kecandran Kecamatan Sidomukti Salatiga dapat di lihat bahwa peranan
perempuan dalam sebuah rumah tangga sangat penting. Karena dg menekuni
profesi sebagai TKW dari kesepuluh responden menyebutkan bahwa
kebutuhan ekonomi keluarga dari sandang, pangan, tempat tinggal serta pen
anak terpenuhi.
                                                
95
 Ibid., hlm 201-204 
  81
Walaupun ada beberapa responden yaitu RM, SM dan LS
menyebutkan bahwa selain terpenuhinya kebutuhan nafkah keluarga ada pula
dampak negatif yang muncul dari keluarganya. Hal ini dapat dilihat dari
prosesntase dampak positif dan dampak negatif yang muncul yakni sebagai
berikut :
1.  Dampak positif
a.  Terpenuhinya kebutuhan sehari-hari 100%
b.  Terpenuhinya pendidikan anak 100%
c.  Terpenuhinya tempat tinggal 60 %
d.  Terselesaikan urusan hutang piutang 10 %
2.  Dampak negatif
a.  Perilaku anak yang menyimpang 10 %
b.  Suami suka berfoya-foya 20%
c.  Pengelolaan uang terhadap orang yang tidak tepat sehingga sebagian
tidak tersalurkan akibatnya mengurangi keharmonisan RT 20%
Keterangan tersebut di atas adalah beberapa dampak positif dan negatif
yang muncul ketika istri berprofesi sebagai TKW. Dari keterangan di atas
dapat diketahui prosentase dari dampak positif jauh lebih banyak daripada
prosesntase dampak negatif yang muncul.
Maka berdasarkan pada kaidah fiqh bawah ini :
َ ِ ِّ َ َأ ِب َ ِ ْر ِ ا ًر َ َﺿﺎ َ ُ ُ َ ْ َأ َ ِ ْو ُر ِن َ َ َ ْ َ َضَر َ َ ا َذ ِإ 

"Apabila  bertentangan  dua  kebaikan,  maka  perhatikan  mana  yang     
lebih besar madlaratnya dengan dikerjakan yang kebih ringan kepada 
madlaratnya" 
  82
   
Dalam kaidah ini menyebutkan apabila suatu ketika datang secara
bersamaan dua mafsadat atau lebih, maka harus dipilih atau diseleksi,
manakah mafsadat itu yang lebih kecil atau lebih ringan. Setelah ini diketahui,
maka yang madlaratnya lebih besar atau berat harus ditinggalkan dan
dikerjakan yang lebih ringan madlaratnya.
96

Berdasarkan kaidah fiqh tersebut maka profesi sebagai TKW di Desa
Kecandran kecamatan Sidomukti Salatiga diperbolehkan. Karena ketika istri
menekuni profesi sebagai TKW manfaat yang didapat jauh lebih banyak dari
pada madlaratnya.























                                                
96
 Asjmuni A Rahman, Qaidah-qaidah Fiqh ( Qawaidul fiqhiyah), Cet I, Bulan Bintang,
Jakarta, 1976, hlm 30 
  83
BAB V
PENUTUP

A.  Kesimpulan
1.  Nafkah adalah kewajiban suami terhadap istri setelah adanya ikatan
perkawinan yang sah. Kewajiban nafkah ini bukan berdasarkan tradisi,
budaya atau adat istiadat. Tetapi  hal ini adalah ketentuan Allah yang
diwajibkan oleh suami terhadap istri. Nafkah tersebut terdiri dari sandang,
pangan dan tempat tinggal. Ketentuan jumlah nafkah yang harus diberikan
suami terhadap istri harus disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki
oleh suami
2.  Profesi sebagai TKW banyak di sandang oleh perempuan di Desa
Kecandran. Hal ini didorong oleh faktor ekonomi masyarakat yang lemah.
Faktor ekonomi muncul karena disebabkan oleh beberapa hal yaitu
pertama, suami tidak memiliki pekerjaan tetap, kedua suami memang
tidak memiliki pekerjaan sama sekali, ketiga suami meninggal dunia,
keempat istri memang tidak memiliki suami.  Selain faktor dari suami
muculnya persoalan ekonomi juga muncul karena istri tidak memiliki
pekerjaan.
3.  Profesi sebagai TKW tidak memungkinkan bagi perempuan di Desa
Kecandran Kecamatan Sidomukti Salatiga untuk bertemu dengan
keluarganya. Profesi ini mengakibatkan terpisahnya jarak, waktu dan
tempat tinggal dengan anak dan suami walaupun sifatnya hanya sementara 
  84
waktu saja, maka dari itu dalam memenuhi kebutuhan nafkah ekonomi
keluarganya tidak dilakukannya secara langsung. Sebagian besar dari
mereka untuk mentasyarufkan gaji hasil kerjanya melalui suami, orang
tua, anak dan ada pula melalui orang yang diberi kepercayaan penuh untuk
mengatur segala kebutuhan ekonomi keluarga yang ditinggalkannya.
Tasyaruf gaji istri sebagai TKW di Desa Kecandran Kecamatan Sidomukti
Salatiga digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari- hari,
membiayai pendidikan anak, membayar hutang dan memenuhi tempat
tinggal bagi keluarganya
4.  Pilihan jalan keluar untuk merubah nasib menjadi TKW perempuan Desa
Kecandran Kecamatan Sidomukti Kota Salatiga tidak semua mencapai
tujuan yang diimpikan. Hal ini dapat dilihat dari akibat yang muncul
setelah istri menekuni profesi sebagai TKW. Persoalan itu muncul karena
kesalahan mengenai cara mentasyarufkan gaji dari hasil kerjanya. Upaya
yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga melalui suami, orang
tua, anak dan orang yang dipercaya memiliki dampak tersendiri. Bahkan
sampai mengurangi bahkan merusak keharmonisan rumah tangga.
Dampak lain ketika istri berprofesi sebagai TKW di Desa Kecandran
adalah karena suami memiliki sifat yang tidak bertanggung jawab terhadap
keluarga, maka Ketika istri menekuni profesi sebagai TKW suami yang
harusnya bertanggung jawab penuh terhadap keluarga yang ditinggalkan
istri bekerja di luar negeri, suami ternyata melepaskan tanggung jawab
tersebut. Dampaknya bagi kehidupan rumah tangga pertama, anak yang 
  85
harusnya di asuh oleh suami di limpahkan kepada orangtua berakibat
minimnya perhatian orang tua terhadap anak, maka anak memiliki perilaku
yang menyimpang, kadua, Hasil kerja yang telah dikirimkan oleh istri
selama menjadi TKW  melalui suami dimanfaatkan sendiri untuk berfoya-
foya.
5.  Dalam pandangan hukum Islam profesi sebagai TKW merupakan sebuah
pekerjaan yang diperbolehkan. Kebolehan ini ada beberapa ketentuan
yang mengaturnya yaitu pertama, apabila ada jaminan keamanan dari
negara bagi diri TKW. Hal ini untuk mengantisipasi jika seorang
perempuan bekerja tanpa ditemani mahrom.
Kedua, dengan mempertimbangkan manfaat dan madlaratnya ketika
perempuan memilih profesi sebagai TKW. Dengan Menekuni profesi
sebagai TKW, Perempuan di Desa Kecandran Kecamatan Sidomukti
salatiga dapat memenuhi berbagai macam kebutuhan untuk keluarganya,
tetapi disisi lain ada pula dampak negatif yang muncul. Hanya saja
dampak positif yang muncul jauh lebih banyak daripada  dampak negatif
yang muncul bagi keluarga. Berdasarkan hal tersebut maka profesi sebagai
TKW bagi perempuan di Desa Kecandran Kecamatan Sidomukti Salatiga
diperbolehkan. 

B.  Saran-Saran
1.  Kepada para perempuan sercara umum dan khususnya di Desa Kecandran.
Kesadaran sebagai seorang perempuan, istri, atau ibu dalam sebuah
keluarga agar lebih diperhatikan. Ketika keputusan untuk menekuni 
  86
profesi sebagai TKW maka harus memperhatikan beberapa hal. Karena
dengan pekerjaan itu sangat tidak mungkin dapat menjalankan kewajiban
sebagai seorang istri atau ibu bagi anak-anaknya. Akibat dari ketidak
mampuan menjalankan kewajiban tersebut akan berakibat fatal bagi
keharmonisan juga keutuhan hidup rumah tangga.
2.  Kepada suami yang ditinggal istri menjadi TKW, sebaiknya memahami
relasi suami istri dalam rumah tangga. Ketika suami tidak mampu
memberi nafkah bagi keluarga sementara istri bekerja menjadi TKW
sudah menjadi kenyataan yang harus diterima jika untuk sementara waktu
pekerjaan dalam rumah tangga menjadi tanggung jawab yang harus
dilaksanakan khususnya merawat dan mendidik anak. Anak merupakan
titipan Tuhan yang harus dijaga oleh kedua orang tuanya. Maka dari itu
jika istri tidak berada di rumah untuk sementara untuk tidak menjadi
sebuah kesalahan jika seorang suami memberikan pengawasan atau
perhatian kepada anak-anaknya.
3.  Kepada pemerintah sebagai penyelenggara negara pengamanan dan
perlindungan sosial merupakan kewajiban negara melalui sistem politik
dan hukumnya, maka dari itu jaminan untuk memberikn keamanan dan
perlindungan bagi warganya baik  laki-laki maupun perempuan harus
benar-benar di tegakkan. Hal ini untuk menghindari berbagai
kemungkinan yang akan terjadi bagi warganya menjadi TKI, karena
sampai saat ini tidaklah sedikit yang menjadi korban keegoisan majikan
ketika bekerja di negara lain. 
  87
C.  Penutup
Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat, taufik dan hidayahnya sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini tanpa ada halangan apapun dan tidak lupa juga
ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga
skripsi ini dapat terselesikan.
Penulis berharap karya ini dapat bermanfaat di masa sekarang maupun
yang akan datang. Walaupun penulis telah berusaha keras untuk menyelesaikn
skripsi ini dengan mengyita banyak waktu, pikiran dan materi. Penulis
menyadari bahwa disini masih banyak kekurangan, untuk itu penulis
mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dari para pembaca
demi sempurnanya karya ini. Sehingga menjadikan karya ini bermanfaat
sampai kapanpun.



















 
  88


DAFTAR PUSTAKA


Abdurrahman,  Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, Akademika Presindo,
Jakarta, 1995.
Al Jaziri, Abdur Rohman, Kitab Fiqh al madzahib al Arba'ah, Juz 4, Al Maktabah
Al Tijariyyah Al Kubro, Mesir, 1969.
Amirin, Tatang M., Menyusun Rencana Penelitian, Rajawali Pers, Jakarta, 1990.
An Nawawi, Imam Al Hafidz Al Fiqhiyah Abi Zakariya Muhyidin Yahya,
Riyadhussalihin, Darul Ulum, Surabaya, t.t.
Arikunto, Suharsimi,  Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktek, Rineka
Cipta, Jakarta, 1997.
________________, Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktek, Bina Aksara,
Jakarta, 1987.
Bin Ahmad, Imam Qodzi Abu Walid Muhammad, Bidayatul Mujtahid, Juz 3, Dar
Al Fikr, t.t.
Departemen Agama RI, Al-Qur'an dan Terjemahnya.
Kisyik, Abdul Hamid,  Bimbingan Islam untuk Mencapai Keluarga sakinah, Al
Bayan Kelompok Penerbit Mizan, terj.Bina’ Al- Usrah Al- Muslimah;
Mausu’ah Al- Zuwaj Al- Islami, Kairo, Mesir, t.t.
Koentjaraningrat,  Metode-Metode Penelitian Masyarakat, Gramedia Pustaka
Utama, Jakarta, 1994.
Moleong, Lexy J., Metode Penelitian Kualitatif, Remaja Rosda Karya, Bandung,
2002.
Mukhtar, Erna Widodo,  Konstruksi ke Arah Penelitian Deskriptif, Avyrouz,
Yogyakarta, 2000.
Munti, Ratna Batara,  Perempuan Sebagai Kepala Rumah Tangga, Diterbitkan
atas Kerja Sama Lembaga Kajian Agama dan Jender, Solidaritas Perempuan,
Jakarta, 1999. 
  89
Nasution, Khoirudin, Islam tentang Relasi Suami dan Istri (Hukum Perkawinan I)
Dilengkapi Perbandingan Unadang-Undang Negara Muslim, Tazzafa
Academia, Yogyakarta, 2004.
Rasjid, Sulaiman, Fiqh Islam, Cet. Ke XXVII,  Sinar Baru al Gesindo, Jakarta, t.t.
Rofiq, Ahmad,  Hukum Islam di Indonesia, Edisi I, Cet. VI, Raja Grafindo
Persada, Jakarta, 2003.
Sabiq, Sayyid,  Fiqih Sunnah Jilid VII, terjemah  Fiqhusunnah, PT. Al Ma'arif,
Bandung, t.t.
Surakhmad, Winarno, Pengantar Penelitian Ilmiah Dasar Metode Teknik, Edisi
VII, CV. Tarsito, Bandung, 1990.
Syarifudin, Amir, Hukum Perkawinan di Indonesia Antara Fikih Munakahat dan
undang-undang perkawinan, edisi. I, Cet I, Kencana, 2006.
_____________, Usul Fiqh Jilid I, Logos, Jakarta, 1997.
Thalib, Muhammad,  Ketentuan Nafkah Istri dan Anak, Cet. I, Irsyad Baitus
Salam, Bandung, 2000.
Undang-Undang Perkawinan di Indonesia, Arkola, Surabaya.
UU RI Nomor 39 Tahun 2004, Indonesia di Luar Negeri, Fokusmedia, Bandung, 2005.




 
  90
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama       : Turfiati Khaqiqoh
Tempat/Tanggal lahir  : Kab. Semarang, 08 April 1985
Jenis kelamin     : Perempuan
Agama     : Islam
Alamat     : Kecandran, Winong RT 03 RW 01 Kec. Sidomukti 
  Kota Salatiga 50723


Riwayat pendidikan :
1.  RA Ma'arif Kecandran lulus tahun 1991
2.  SD Sidorejo Lor 02 Salatiga lulus tahun 1997
3.  MTs Negeri Salatiga lulus tahun 2000
4.  MAN I Salatiga lulus tahun 2003

Demikian riwayat hidup penulis dibuat dengan sebenar-benarnya, kemudian bagi
yang berkepentingan harap maklum adanya.
Salatiga, Maret 2008
Penulis


  akhmad s amin'
 201109043


 
  91


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar